Official Site - Kumpulan tulisan, gambar dan kliping kegiatan Dr. Hj. Een Herdiani S.Sn, M. Hum serta dunia seni tari dan pendidikan

  • last

    Semarak Seni Sunda Menggema di Olin Concert Hall Bates College Lewiston, Maine Portland

    Oleh: Een Herdiani (Rektor ISBI Bandung)

    Sejak pukul 7:30 p.m hari Jumat, 19 Mei 2017, Gedung Concert Hall Olin Center Bates College sudah mulai ramai didatangi penonton. Terdengar perbincangan saling menanyakan kabar di antara mereka. Beberapa dari penonton adalah pelanggan dan penggemar kesenian tradisional Indonesia yang rutin disajikan di tempat tersebut dua tahun kali. Para apresiator ini terdiri atas masyarakat umum sekitar daerah Lewingston, para profesor, juga para mahasiswa Bates College.



    Tepat pukul 8:00 p.m pembawa acara mulai membuka acara dengan tema pertunjukan malam itu yakni Music and Dance of West Java, Indonesia. Tepuk tangan pun terdengar riuh dari para penonton. Overture yang disajikan oleh 16 orang pemain mulai terdengar. Diawali dengan tepak kendang yang atraktif disusul dengan kemprang bonang dan rincik yang kemudian bersahutan dengan seluruh perangkat gamelan terdengan sangat dinamis sehngga penonton dibawa ke dalam suasana yang ceria. Tidak ketinggalan bunyi angklung yang dimainkan empat gadis cantik mewarnai musik overcure.

    Sekali-kali musik tersebut diselingi tepukan tangan yang bersahutan dari seluruh pemain gamelan. Dipandu dengan kendang, ketuk, dan goong. Disambung dengan tepukan kendang rampak dua pemain yaitu Undang Sumarna dan Gina Fatone atraktif sekali. Pukulan kendang terdengar saling bersahutan dan kadang harmoni dalam tepakan bersama. Diakhiri dengan tabuhan seluruh perangkat gamelan pada nada 4 (ti).

    Sajian dilanjutkan dengan terdengarnya lagu bendrong kering, mengiringi munculnya penari Gatotkaca dari panggung bagian kanan. Setelah penari berada di tengah panggung bagian depan musik berubah pada lagu Gunungsari. Tokoh Gatotkaca yang memiliki julukan “berurat kawat dan bertulang besi” pun menari dengan ekspresif menyatukan rasa gerak dengan musik sangat dinikmati.

    Usai tari Gatotkaca para pemain gamelan berganti posisi, tak lama kemudian terdengar alunan gamelan degung mengiringi sepasang remaja Maclean dan Fergus Scott melantunkan lagu Sekar manis. Keduanya menyanyi dengan artikulasi yang jelas dan power yang baik sekali seolah keduanya sudah fasih dengan bahasa dan logat Sunda. Sajian selanjutnya adalah lagu Banjarmati dalam laras pelog. Peralihan nada ini pun membuat kekaguman para penonton karena terdengar ada nada suara yang berbeda dengan sajian sebelumnya. Banjarmati berakhir dilanjutkan dengan sambutan Gina Fatone sebagai penanggungjawab kegiatan program tersebut memperkenalkan para pemain dengan alat gamelan yang ditabuhnya. Penonton pun terus memberikan tepuk tangan tanda kekaguman terhadap seluruh personil.

    Setelah sejenak istirahat, sajian dilanjutkan dengan tampilan tari Badaya. Empat penari memasuki panggung dengan gerak keupat dua. Gerak-gerak tari Sunda yang dikemas dalam iringan Badaya kering membuat para penari terlihat ceria dalam mengungkapkan geraknya. Para penari cantik itu adalah Sally Ceesay, Sarah Centanni, Praneet Kang, dan Azure Raid-Russel. Usai sajian Tari Badaya dilanjutkan dengan sajian Degung dalam lagu Kunang-kunang, tiga penyanyi melantunkan lagunya dengan penuh semangat dengan logat yang unik Sunda dan Barat membuat greget penonton. “Leu leu leui leui leu leu leu leu yang, Duh eta saha saha anu ngahaleuang, Cing cangkeling manuk cingkleung cindeten, duh saha eta nu geulis nu hideung santen” Bait pertama dilantunkan dengan baik hingga empat bait sisindiran dinyanyikan mereka nyaris sempurna. Sebagai puncaknya pertunjukan diakhiri dengan sajian Tari Topeng Koncaran yang disajikan Een Herdiani dengan menampilkan tiga watak karakter yaitu Anjasmara, Tumenggung, dan Klana. Diakhir pertunjukan para penonton memberikan standing applause sebagai tanda kepuasan dalam menikmati seluruh sajian pada malam tersebut.



    Yang menarik, usai pertunjukan seluruh pemain masuk kembali ke panggung. setelah memberi hormat semuanya duduk di panggung dan melakukan diskusi dengan penonton. Umumnya mereka memberikan apresiasi yg baik terhadap pertunjukan dan menyampaikan kekaguman atas keberhasilan pertunjukan tentang seni budaya tradisional bangsa lain yaitu kesenian Sunda Indonesia. Ada penonton mempertanyakan tentang proses pelatihan dalam menyiapkan pertunjukan, kebersamaan yang saling mengisi dalam pertunjukan, bahkan ada juga yang menanyakan tentang kaitan kesejarahan dari kehidupan seni tari di Jawa Barat yang juga dikaikan dengan kehidupan religi di Indonesia. Diskusi terasa hidup, hampir semua pemain berbicara menjawab pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan penonton. Diakhir diskusi terdapat beberapa dari mahasiswa memiliki keinginan dan berhasrat untuk belajar kesenian ke Indonesia.

    Keberhasilan pertunjukan yang bertajuk Music and Dance of West Java, Indonesia. Merupakan upaya keras dari seorang pengajar gamelan di Departement Music Bates College yaitu Gina Fatone. Ia megatur dan merancangkan pertunjukan dengan mendatangkan dua dosen tamu yaitu Dr. Een Herdiani, S.Sen., M.Hum pengajar tari pada Jurusan Seni Tari Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Budaya Indonesia Bandung yang saat ini menjadi Rektor ISBI dan Undang Sumarna seorang dosen Gamelan Sunda di Universitas California Santa Cruz yang juga berasal dari Jawa Barat. Gina, kedua dosen tamu, serta para mahasiswa bekerjasama selamalima hari untuk mensukseskan acara tersebut. Dari kesenangan mereka dalam bidang seni maka secara konsisten mereka bertanggung jawab untuk menunjukkan hasil praktiknya dalam menyajikan kesenian tradisional Sunda khususnya gamelan Sunda.



    Gina Fatone sebagai kepala Departemen Music, secara rutin membuat program pertunjukan seni Sunda dalam dua tahun sekali. Beberapa seniman Sunda pernah diundang untuk berlatih bersama mahasiswanya yang kemudian hasil pelatihan tersebut dipentaskan. Yang mengagumkan adalah dalam waktu singkat mereka belajar gamelan tetapi berhasil dengan baik. Mereka umumnya baru belajar gamelan hanya dalam waktu 5 minggu saja. Mereka terdiri dari mahasiswa dari berbagai jurusan tidak hanya dari musik saja. Jurusan kedokteran, hukum, ekonomi, dan lain-lain. Sementara kebersamaan penulis dengan mereka hanya berlatih dalam waktu lima hari. Namun demikian sangat disyukuri bahwa target pertunjukan dapat dilaksanakan dengan baik. Walaupun waktu latihan yang terbatas karena berkejaran dengan kegiatan perkuliahan mereka, namun karena keseriusan dari mereka semuanya dapat dilakukan dengan baik. Hal ini dapat menjadi motivasi para generasi muda bangsa Indonesia agar tetap mencintai kekayaan seni tradisinya. Seni dapat menjadi perekat bangsa, dengan seni dapat menjadi alat diplomasi yang sangat strategis.

    Agenda

    Kabar

    Kontak Kami