Official Site - Kumpulan tulisan, gambar dan kliping kegiatan Dr. Hj. Een Herdiani S.Sn, M. Hum serta dunia seni tari dan pendidikan

  • last

    Perkembangan Tari Merak di Jawa Barat

    Oleh : Een Herdiani
    Institut Seni Budaya Indonesia Bandung

    Disampaikan dalam Seminar Nasional “Tari Merak dalam Perbandingan”
    Gedung Sunan Ambu ISBI Bandung, 4 Juni 2015


    Tari Merak merupakan salah satu karya tari yang dibuat sekitar tahun 1950-an oleh R. Tjetje Somantri. Sejak kelahirannya hingga kini tarian ini digemari oleh masyarakat luas. Ada keunikan-keunikan dalam gerak tarian maupun kostumnya. Tahun 1956 tarian ini mendapat sentuhan dari muridnya yaitu Irawati Durban dengan menggubah susunan dan bentuk geraknya, serta memperbaiki kostumnya. Dari waktu ke waktu tarian ini semakin digemari masyarakat dengan keindahan kostumnya yang terkesan mewah menjadi daya tarik tertentu. Di samping itu, keceriaan dari warna musiknya juga memberi kesan tertentu yaitu lebih lebih antraktif dan dinamik. Oleh sebab itu tarian ini selalu menjadi andalan dalam pertunjukan-pertunjukan tari Sunda di dalam maupun di luar negeri. Setelah R. Tjetje Somantri meninggal murid-muridnya membuka sanggar tari masing-masing. Maka muncullah gaya tari merak yang berbeda-beda. Pada dekade tahun 2000-an muncul fenomena baru di mana tari Merak banyak digunakan sebagai tarian penyambutan pengantin. Para penari wanita menggunakan kostum dan gerak-gerak Tari Merak.
    Key word: Perkembangan, Tari Merak, Jawa Barat

    Peacock Dance Developments in West Java

    Peacock Dance is one of the dance works created around the 1950s by R. Tjetje Somantri. Since its inception until now this dance favored by the public. There is a uniqueness in motion dance and costume. In 1956, this dance is a touch of his students Irawati Durban with slightly changing the composition and form of motion, and improve costume. From time to time the dance is increasingly popular with the public with the beauty of the costumes that impressed luxury into a certain appeal. In addition, the cheerfulness of the music also gives the impression of color is much more specific and dynamic antraktif. Therefore, this dance has always been a mainstay in the Sundanese dance performances at Indonesia and abroad. After R. Tjetje Somantri died of his students opened a dance studio each. Then came the peacock dance styles are different. In the decade of the 2000s emerged a new phenomenon which is widely used as a dance peacock dance bridal reception. The female dancers use costumes and movements Peacock Dance.
    Key word : Developments, Peacock Dance, West Java.

    PENDAHULUAN
    Tari merak mulai dikenal masyarakat setelah pertama kali dipertunjukkan di Gedung Schouwburg Concordia (Gedung Merdeka sekarang) dalam acara Konferensi Asia Afrika pertama. Tarian bertemakan binatang ini cukup menarik perhatian masyarakat karena keindahan gerak yang ditunjang oleh musik yang dinamis serta kostum yang terkesan mewah. Kemunculan tari Merak yang kemudian menjadi salah satu icon tari di Jawa Barat tidak lepas dari tahapan perbaikan di sana-sini oleh muridnya terutama Irawati Durban Ardjo hingga pada saatnya tahun 1970-an menjadi tarian yang sangat popular baik itu di Jawa Barat maupun di luar Jawa Barat.
    Perjalanan sejarah popularitas tari Merak tidak sekaligus melalui polesan yang terus bertahap dari waktu-kewaktu. Kehadiran tari Merak juga tidak lepas dari peran penting Badan Kesenian Indonesia (BKI) di bawah pimpinan Tb. Oemay Martakusumah. Melalui organisasi tersebut Tb. Oemay terus membangun seni Sunda untuk dapat berkiprah demi bangsa Indonesia. Kiprahnya dalam dunia seni tidak lepas dari tangan-tangan kreatif R. Tjetje Somantri beserta kawan-kawannya yang terus menerus bersama-sama melahirkan berbagai karya tari Sunda. Geliat kehidupan tari Sunda mulai muncul sejak tahun 1946. Terutama dengan munculnya penari-penari perempuan yang menghiasi panggung-panggung pertunjukan seni di Jawa Barat. Namun karena kondisi keamanan Negara masih belum sepenuhnya aman maka pertunjukan seni masih timbul tenggelam. Tahun 1948 aktivitas berkesenian dari para seniman kembali muncul, terutama sajian-sajian pertunjukan rakyat yang sengaja diselenggarakan oleh pemerintah Belanda dengan tujuan untuk menarik perhatian masyarakat. Berbagai pertunjukan rakyat digelar setiap hari Sabtu malam (Irawati, Pikiran Rakyat, 5 Mei 2015: 11). Kehadiran tari-tari perempuan itu atas kreativitas sang maestro yaitu R. Tjetje Somantri. Beliau dikenal sebagai pembaharu tari Sunda. Namanya mulai dikenal di masyarakat luas. Hasil kreativitasnya membumi di Jawa Barat. karena dukungan dari BKI yang juga mampu memasuki dunia pendidikan Karya-karya tarinya cenderung lebih banyak berjenis tari perempuan. Seperti Kreativitasnya yang terus dikembangkan dibantu oleh mengangkat dunia tari Sunda semakin dikenal masyarakat. Kehadiran Tari Merak di Jawa Barat menambah kekayaan khasanah tari Sunda.

    LAHIRNYA TARI MERAK
    Sejak tahun 1950-1958 Badan Kesenian Indonesia di bawah pimpinan Tb. Oemay Martakusumah membuka kursus tari bagi pria maupun wanita. Di samping membuka kursus, BKI juga melayani berbagai jasa pertunjukan penting kenegaraan pada tingkat nasional, maupun internasional. Acara kenegaraan sering digelar di Gedung Pakuan, Hotel Savoy Homan, Hotel Preanger, BP Bumi Sangkuriang, dan sebagainya (Irawati, Pikiran Rakyat, 5 Mei 2015: 11). Selanjutnya Irawati menyebutkan pula bahwa sejak Presiden Soekarno melihat pertunjukan kelompok Tb. Oemay Martakusumah dan Tjetje di Garut tahun 1946, maka Presiden Soekarno selalu mempercayakan berbagai acara pertunjukan kepada Tb. Oemay Martakusumah dalam menjamin tamu Negara yang hadir di Bandung, Istana Cipanas, Istana Bogor, maupun Istana Negara Jakarta. Tb. Oemay selalu ditunjuk menjadi Art Director, R. Tjetje Somantri sebagai penata tari, dan Kayat sebagai penata gending/musiknya. Dalam pertunjukan tersebut ada tarian yang sering menarik perhatian penonton. Tarian yang cukup digemari penonton saat itu adalah tari Kukupu (kupu-kupu). Tari Kupu-kupu disajikan dengan penuh ekspresif serta kostumnya yang unik dan gemerlap. Tari Kupu-kupu pertamakali digelar tahun tanggal 19 Juli 1952 di Gedung Pakuan dalam rangka menjamu Presiden Filiphina. Tarian tersebut disajikan oleh delapan mojang Bandung yang terkenal kecantikannya. Sejak itu, tari kupu-kupu selalu menjadi andalan sajiannya baik dalam acara-acara yang digelar di dalam maupun luar negeri (Pikiran Rakyat, 5 Mei 2015: 11, juga dalam Irawati, 2008: 112).
    Kepopuleran tari Kupu-kupu memberikan kepercayaan kepada Presiden Soekarno untuk menjadi kansajian utama dalam Konferensi Asia-Afrika yang pertama kali digelar tahun 1955. Namun pada saat itu dalam proses latihan ada seorang penari berbicara di depan Tb. Oemay, R. Tjetje, juga Kayat bahwa sebaiknya ada tarian lain supaya tidak tari Kupu-kupu lagi yang ditampilkan. Tjetje Somantri setuju dengan usulan para penarinya untuk membuat tarian baru yaitu merak. Akhirnya ia pun melakukan survey ke kebun binatang untuk mencari inspirasi membuat tarian lain. Tjetje ditemani Dedi Jamhur melihat burung merak yang indah. Kemudian merak tersebut diamati terus dari berbagai sisi. Burung merak yang sedang berdiam diri itu dipancing agar bergerak lalu di colek-colek tubuhnya agar merak tersebut bergerak, marah lalu membeberkan ekornya. Benar saja bahwa burung merak tersebut mengembangkan ekornya yang indah. Lalu Tjetje Somantri kemudian membuat tari Merak yang sengaja dibuat untuk sajian khusus untuk acara Konfferensi Asia Afrika (Irawati, wawancara, Bandung: 23 Mei 2015). Irawati juga menyebutkan ia wawancara dengan penari merak pada tahun 1955 yaitu Setiasih. Seperti yang diungkapkan Setiasih Tisnamiharja, bahwa ia melihat tari Merak menjadi sajian utama dalam pertunjukan di Konferensi Asia Afrika, Ia pun ikut menari tari Merak dengan lima penari lainnya. Setelah tari merak dipertunjukkan di acara Konferensi Asia-Afrika, tarian merak hanya disajikan beberapa kali saja. Selain di acara KAA juga ditampilkan dalam menyambut Presiden Virosilop dari Rusia tanggal 10 Mei 1957 bertempat di Gedung Pakuan dan pada tanggal 17 November 1958 di YPK sekarang (Irawati, Pikiran Rakyat, 5 Mei 2015: 11, juga dalam Irawati, 2008: 66). Tari Merak ini berkarakter putri lanyap, bentuknya tari rampak, lagu pengiringnya Bendrong Sorog. Tari Merak menggambarkan merak yang sedang memperlihatkan keindahan bulunya yang sedang menari di alam bebas (Irawati, 2008: 73). Gerakan yang ditampilkan dalam tarian merak pada saat itu sangat sederhana, tapi yang teringat ada gerakan-gerakan kokoer, kembang kuray, terbang, Selebihnya gerakan itu seperti umumnya tarian kupu-kupu dan gerakan tarian putri. sementara gerakan lainnya tidak ingat lagi. Demikian pula kostum yang digunakan masih sederhana. Apok, kace, sinjang, sampur, siger, dan sayap. Sayapnya masih kaku dan seperti burung kebanyakan. Sementara iringan tarianpun masih sederhana (Irawati, wawancara, Bandung, 23 Mei 2015). Tari Merak menjadi tari konsep baru dari Tjetje Somantri baik itu dari teknik maupun dari penampilannya (Irawati, 2008: 111). Tari karya Tjetje Somantri {termasuk tari merak} mampu memberikan kesegaran baru, kebebasan bentuk serta kesemarakan baik dalam gerak, iringan tari, maupun penampilan busananya (Caturwati, 2000: 62).

    IRAWATI SEBAGAI PENGGUBAH TARI MERAK
    Pada awalnya, Irawati sudah memiliki ide untuk mengembangkan tari Merak untuk persiapan pertunjukan dalam rangka New York Word’s Fair tahun 1964. Hal ini karena kebosanannya menarikan tari Kupu-kupu. Ira mencoba mencarang gerak, kostum, maupun musiknya. Dari segi gerak ada beberapa tambahan yang sumbernya diambil dari teknik tari Ballet, Bali, modern dance sebagai upaya untuk lebih menampakkan tarian Merak lebih tampak merak-nya. Namun tari merak yang sudah digubah Irawati tidak sempat dipentaskan dalam acara New York Fair karena misinya batal alatan isu politik antara Indonesia Malaysia. Batalnya pergi ke Amerika tidak menghalangi ke tempat lain, Di mana akhirnya tari Merak dapat dipentaskan di hadapan Kepala Negara Korea Utara Kim Il Sung, Liu Shao Chi dan Mao Tse Tung di RRT. Serta Kaisar Jepang Hirohito pada bulan Mei-Juli tahun 1965 (Irawati, Pikiran Rakyat, 5 Mei 2015: 11, juga dalam Imran, 2011: 91-93)
    Gerak-gerak tari merak yang disusun R. Tjetje Somantri tidak banyak yang dapat diingat oleh Irawati sebab yang diingat Irawati adalah seperti keupat, ukel, Padahal gerakan tari burung itu sangat variatif, Irawati terinspirasi dari gerakan tarian burung unta dari Afika. Lalu Ira mencoba menuangkan konsep berdasarkan gerakan burung merak yang agak mirip dengan gerakan yang sebenarnya. Misalnya gerak kokoer yang tadinya dilakukan dengan berdiri saja kemudian digubah dengan posisi miring disertai kepala miring juga. Koreografinya diperkaya dengan gerakan-gerakan yang lincah penuh gairah. Demikian halnya dengan gerakan kepala. Gerakan kepala diberi tambahan variasi dalam melakukannya. Biasanya gerak tolehan dengan gilek yang cenderung lembut, diubah menjadi gerak tolehan yang cenderung stakato. Demikian pula dalam karawitan, Irawati dibantu seorang komposer tari bernama Aim Abdurohim (karyawan di ASTI Bandung saat itu) menata karawitan tari merak dengan sangat dinamis. Ira mengungkapkan pendapatnya bahwa musik tari merak kurang centil terlalu lungguh, maka menginginkan suasana lain yang lebih bergairah. Uniknya Aim menangkap keinginan tersebut dan memunculkan gagasan untuk menabuh bonang dengan pemukul yang dibalikkan sehingga menimbulkan suara yang lain dan lebih lincah (Irawati, wawancara, Bandung, 23 Mei 2015). Kreativitas Ira dalam mengembangkan tari Merak karya Tjetje Somantri diakui Endang Caturwati, sebagai berikut. Irawati selain dikenal sebagai penari professional yang matang, andilnya sangat besar dalam menampilkan kembali tari Merak, menjadi tarian yang sangat digemari masyarakat luas. Kerja keras Ira dalam menggubah tari Merak cukup apik di mana ia mengolah gerak-gerak tari Merak yang masih diingat dalam benaknya, kemudian gerak tersebut dikembangkan dan diinterpretasikannya sendiri. Selain itu Ira pun mendesain baju merak agar lebih hidup untuk menunjang gerak tarinya. Terutama dalam mendesain ekor yang sangat indah dan seakan sedang terbang bila digerakkan (Caturwati, 2008: 108).
    Pendapat lain disampaikan oleh Indrawati. Indrawati salah seorang murid dari R. Tjetje Somantri mengakui belajar tari merak setelah melihat tari merak Tjetje yang digubah oleh Irawati. Tahun 1968 Irawati memperlihatkan tarian hasil gubahannya kepada beberapa seniman termasuk Indrawati. Ketika Irawati menggubah tari Merak, Indrawati sendiri sedang berada di luar negeri dan setelah kembali ke Bandung tari Merat sudah berubah. Indrawati mengakui bahwa karyanya bagus lalu dipelajari juga olehnya. Sejak itu tari merak mulai sering dipertunjukkan di mana-mana (Indrawati, wawancara, Bandung, 24 Mei 2015).
    Unsur penunjang yang sangat unik dalam tari merak adalah kostum. Ide pengembangan kostum tari Merak muncul dari Irawati untuk mencoba membuat lain dengan kostum yang pertama dibuat. Berbekal sebagai seorang desainer, ide Irawati disampaikan kepada Barli seorang perupa. Sinjang, ekor merak, dan apok didesain oleh Barli. Hal ini diperkuat pula oleh tulisan Endang Caturwati yang menyebutkan bahwa ketika mendesain busana tari merak, Ira mendapat arahan dari Barli seorang pelukis asal Bandung, yang kemudian untuk hal-hal mengenai detal dibantu oleh kakak Ira yaitu Ny. Kusumah (2008: 108). Desain yang sudah dibuat Ira lalu diproduksi oleh kakaknya Irawati yaitu Kusumah. Dibuatkanlah dua warna baju merak yaitu hijau dan biru. Pada tahun 1970 ketika ada acara expo ke Amerika, Kusumah mencoba membuat baju merak warna putih. Ide itu muncul karena kebosanan Kusumah hanya membuat baju merak dua warna saja hingga ia ingin mengeksplor warna lain (Irawati, wawancara, Bandung, 23 Mei 2015). Selanjutnya mulai tahun 1986 warna-warna baju merak semakin bervariasi, terdapat warna ungu, orange, merah, kuning bahkan hitam. Mulai tahun 1990-an tari merak semakin popular bahkan menjadi icon tari Sunda. Berbagai iklan pariwisata tidak lepas untuk memunculkan tari Merak.
    Dalam perkembangannya tari merak tidak saja hanya menjadi sajian pertunjukan di panggung, tetapi digunakan oleh penari dalam menyambut pengantin. Fenomena ini tidak dapat dipungkiri bahwa masyarakat menyenangi tari merak digunakan sebagai penyambut pengantin. Permintaan masyarakat cukup tinggi untuk upacara adat dengan menggunakan tari merak sebagai tarian penyambutnya. Tari merak hingga kini (2015) tetap selalu disajikan dalam berbagai event pertunjukan di Jawa Barat. Dalam perkembangan kemudian tari merak memunculkan versi yang beraneka ragam karena telah pindah tangan dari satu generasi ke generasi lain, dari satu pelatih ke pelatih lain. Ini telah menjadi sesuatu yang lumrah terjadi dalam perkembangan seni khususnya tari.

    PENUTUP
    Tari merak hasil karya R. Tjetje Somantri yang awalnya dibuat untuk menyambut Konferensi Asia Afrika yang pertama tahun 1955 dalam perkembangannya mencapai puncak popularitas. Diawali dengan konsep yang sederhana pada tahun 1965 mendapat polesan tangan kreatif Irawati, akhirnya tari Merak menjadikan popular di Nusantara. Bahkan selalu menjadi sajian utama dalam pertunjukan-pertunjukan seni yang digelar di dalam maupun di luar negeri. Tarian yang dinamis ini menjadi sangat menarik karena berbagai unsur pendukungnya menyatu dalam sebuah karya kreatif yang disukai masyarakat banyak.

    DAFTAR SUMBER
    A. Buku
    Ahda Imran Miftahul Malik, dkk.
    2011 5 Dasa Warsa Irawati Menari, Bandung: Pusbitari Press.

    Endang Caturwati,
    2008 R. Tjetje Somantri (1892-1963) Tokoh Pembaharu Tari Sunda, Yogyakarta: Tarawang.

    Irawati Durban Ardjo,
    2007 Tari Sunda 1880-1990, Melacak jejak Tb. Oemay Martakusumah dan Rd. Tjetje Somantri.Bandung: Pusbitari Press.

    ------------------------,
    2008 Tari Sunda Th. 1940-1965, Rd. Tjetje Somantri dan Kiprah BKI, Bandung: Pusbitari Press.

    B. Nara Sumber:

    Irawati Durban Ardjo, wawancara tgl 23 Mei 2015 di Bandung.
    Indrawati Lukman, wawancara, tgl 24 Mei 2015 di Bandung.

    Agenda

    Kabar

    Kontak Kami