Official Site - Kumpulan tulisan, gambar dan kliping kegiatan Dr. Hj. Een Herdiani S.Sn, M. Hum serta dunia seni tari dan pendidikan

  • last

    Kenservasi Upacara "Seren Taun" Sebagai Upaya Memelihara Perilaku Gotong Royong Dalam Maryarakat Adat Paseban Kabupaten Kuningan

    Oleh: Een Herdiani

    Upacara Seren Taun merupakan salah satu tradisi masyarakat adat Paseban Kabupaten Kuningan yang terus dipelihara oleh masyarakat setempat serta didukung oleh aparat pemerintahnya. Upacara ini dilakukan setahun sekali yaitu setiap bulan Rayagung. Dalam upacara Seren taun banyak ritual yang dilakukan untuk menunjukkan rasa syukur terhadap Yang Mahakuasa, serta kepada para leluhur mereka yang diyakini sebagai pemberi berkah dalam kehidupan. Sajian beberapa bentuk kesenian mewarnai peristiwa budaya ini. Sajian kesenian pun masih terkait dengan seni yang berfungsi sebagai sarana upacara seperti Wayang, Ngalisung, Tari Buyung, serta seni-seni tradisi lainnya yang hidup dalam masyarakat Paseban. Peristiwa budaya ini biasanya dilakukan dalam jangka waktu satu minggu dengan beragamacara ritual maupun hiburan. Upacara ini mengandung makna yang dalam bagi masyarakat adat Paseban.

    Dalam peristiwa budaya ini perilaku masyarakat menunjukkan sifat-sifat kearifan lokal yang sangat kental dalam memelihara sikap gotong royong dengan tujuan demi kebersamaan masyarakatnya. Sikap ini merupakan salah satu perilaku tradisi masyarakat Sunda yang positif. Dewasa ini, sikap kebersamaan, gotong royong, saling menghargai antar manusia semakin ditinggalkan orang. Sifat individualistis lebih menonjol sehingga tingkat kepedulian terhadap orang lain semakin berkurang. Gejala budaya seperti ini dapat membentuk manusia egois yang lebih mementingkan diri sendiri dari pada kepentingan umum. Salah satu upaya untuk menghindarkan sifat-sifat individualistis, masyarakat Adat Paseban tetap melestarikan upacara Seren Taunagar masyarakat selalu membina nilai-nilai kearifan budaya lokal yang dijunjung tinggi dalam mayarakat tradisi.

    Kata Kunci: Konservasi, Seren Taun, Gotong royong.

    PENDAHULUAN

    Upacara Seren Taun merupakan ritual masyarakat Adat Paseban Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Upacara ini dilakukan setahun sekali yang jatuh pada bulan Rayagung yaitu bulan kedua belas dalam perhitungan tahun Sunda. Dilakukan satu tahun sekali karena dulu sebelum tahun 1950-an, konon panen itu hanya satu tahun satu kali. Seren Taun sangat erat hubungannya dengan ritual kesuburan. Seperti halnya daerah-daerah agraris lain bahwa ritual kesuburan merupakan aktivitas yang dianggap sangat penting dalam kehidupan masyarakat lama. Upacara ritual ini dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur yang disampaikan kepada yang Sang Pencipta dan kepada para leluhur mereka yang dianggap sebagai pemberi barakah dan kesejahteraan.Seren taun itu sendiri artinya adalah akhir tahun atau tutup tahun yang bermakna pula sebagai penyerahan tahun yang sudah berlalu dan menyongsong masa yang akan datang dengan mensyukuri nikmat yang sudah diberikan dan mengharap keberkahan di tahun yang akan datang.

    Masyarakat Adat Paseban, merupakan sebuah komunitas yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai lokal genius kesundaan. Kebersamaan, kekeluargaan, tidak membeda-bedakan suku, agama, ras serta sangat menghargai alam lingkungannya. Kehidupan berbagai agama yang ada di daerah ini sangat harmonis. Kecuali dengan komunitas masyarakat lain di luar masyarakat adat Paseban yang cenderung kurang harmonis karena dianggap ada perbedaan keyakinan dengan masyarakat umum. Kendatipun masyarakat ini agak terisolir dari masyarakat umum, namun yang patut dihargai adalah kekentalan dari nilai-nilai budaya lokal sangat menonjol terutama dalam memelihara hubungan vertikal maupun horisontal. Antar manusia dengan manusia, dengan alam, serta dengan Tuhannya, hubungan tersebut terpelihara dengan baik. Salah satu pemeliharaan nilai-nilai tersebut tampak sekali dalam upacara Seren Tahun.

    Upacara Seren Taun ini direvitalisasi oleh Kyai Madrais seorang tokoh budaya dan agama di Cigugur, sehingga dalam pengungkapan upacara tidak lepas dari unsur-unsur ajaran dan missi gaya Kyai Madrais, yang dapat dilihat dari pemaknaan dan perlambangan serta pelengkapan dari segala hal yang diungkapkan dan ditampilkan dalam upacaranya (Subiantoro, 2002:23). Dalam Upacara tersebut tidak pernah ada pembedaan tentang agama, semua tokoh agama yang hidup di daerah Kuningan hadir dalam acara tersebut. Setiap perwakilan tokoh agama hadir dalam acara tersebut dan membacakan doa secara bergantian. Mereka sangat rukun, demikian halnya dengan masyarakat mereka bergotong royong mengadakan upacara Seren Taun secara ikhlas dengan menyumbangkan tenaga dan hasil pertanian atau pun usaha lainnya untuk terselenggarakannya acara tersebut.

    MAKNA SIMBOLIS PERISTIWA BUDAYA SEREN TAUN

    Persiapan upacara dilakukan jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan upacara itu dilakukan. Setiap keluarga akan menyumbangkan tenaga dan waktunya serta berbagai makanan atau hasil pertanian yang mereka miliki untuk disumbangkan sekaitan dengan kebutuhan yang ada. Dua hari sebelum pelaksanaan dilakukan sekeliling tempat masyarakat Adat Paseban berkumpul. Di situ juga terdapat sebuah gedung yang dinamakan gedung Tri Panca Tunggal yang di dalamnya terdapat peninggalan-peninggalan penguasa masa lalu. Tempatnya dihiasi dengan berbagai dekorasi yang terbuat dari tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan. Hiasan janur mewarnai tempat-tempat. Sesajian tersimpan di hampir setiap sudit. Bendera-bendera panjang atau umbul-umbul ditancap di pinggir-pinggir jalan. Demikian halnya ruangan dan beberapa panggung yang akan digunakan sebagai laku upacara maupun hiburan. Beberapa buah lisung berjejer ditempatkan di halaman rumah ketua adat.

    Pada hari pertama pelaksanaan upacara Seren Taun, biasanya sekitar jam lima pagi masyarakat sudah mulai berdatangan mempersiapkanberbagai macam kebutuhan sesuai dengan tugasnya masing-masing. Dari mulai makanan hingga mempersiapkan pertunjukan arinya para gadis sudah mulai berdandan mempercantik diri untuk pertunjukan tarian terutama tari buyung yang menjadi ciri khas dalam seren taun ini. Diawali dengan arak-arakan, para pemuda-pemudi yang membawa berbagai macam buah-buahan dan umbi-umbian, ada yang membawa padi, membawa bibit padi, dan sebagainya. Kemudian ada rombongan ibu-ibu yang membawa tumpeng yang nantinya akan dimakan oleh seluruh warga yang datang ke acara tersebut. Ada pula rombongan bapak-bapak yang membawa padi dipikul dengan bambu yang dinamakan rengkong, yang kemudian nantinya padi itu akan ditumbuk. Ada juga rombongan bapak-bapak yang membawa angklung kuno namanya angklung buncis sebagai salah satu intrumen terbuat dari bambu yang dianggap kuno. Biasanya setelah arak-arakan atau pawai acara diakhiri dengan persembahan tari buyung yang ditampilkan lebih dari 50 penari.

    Usai prosesi pertunjukan di jalan, para tamu langsung diajak ke menuju Gedung Tri Panca Tunggal dengan diiringi musik gamelan monggang. Perwakilan dari setiap kelompok helaran memberikan bawaannya untuk diserahkan secara simbolis kepada Pangeran Djati Kusumah sebagai ketua adat masyarakat Paseban. Semua undangan diarahkan untuk menuju halaman rumah yang telah disediakan padi untuk di tumbuk di dalam lisung. Dengan menumbuk padi sambil berkeliling sebanyak tujuh keliling. Menumbuk padi dilakukan sampai menjelang magrib. Selama menumbuk padi masyarakat dipersilahkan untuk menikmati makanan yang disediakan di berbagai tempat oleh masyarakat. Sementara hasil tumbukan padi yang sudah menjadi beras dibagikan kepada pakir miskin. Ini maknanya adalah kebersamaan, gotong royong, dan saling membagi.

    Malam harinya semua undangan menempati tempat yang sudah disediakan, acara dimulai dengan pemberian doa dari setiap kelompok agama dan tokoh budaya. Selanjutnya disajikan rajah dari Pangeran Rama Djati, dilanjukan dengan tari Pohaci oleh salah seorang putri dari Pangeran Rama Djati yang menyimbulkan tentang tari persembahan untuk dewi padi. Sejak itu pertunjukan kesenian secara bergantian digelar di beberapa tempat di seputar rumah Pangeran Rama Djati. Malam-malam berikutnya disajikan berbagai macam jenis kesenian sebagai ciri khas Jawa Barat.

    Pada dasarnya manusia selalu akan berkaitan dengan ritual karena pada dasarnya manusia adalah homo ritual. Ritual membuat kehidupan seseorang menjadi terstruktur, terarah, serat berorientasi pada nilai. Ritual berfungsi sebagai media transformasi nilai dan makna dalam hidup manusia. Ritual menjadikan manusia terus menumbuhkan jalinan hubungan dengan Tuhannya, alam, maupun sesamnya. Ekspresi manusia dalam ritual akan terungkap, baik itu yang berhubungan dengan kisah hidup, norma, etika, budaya, dan sebagainya melalui tindakan simbolik dalam ritual (Subiantoro, 2002:89). Dalam fenomena tersebut terdapat aktivitas pertunjukan tempat masyarakat mengungkapkan kebahagiaan, bernyanyi, berdoa, berkisah, yang kemudian orang menyebutnya sebagai homo fstivus (Cox, 1970: 10). Dalam fenomena tersebut terdapat tindakan sakral, mantra sakral, juga pergelaran sakral, yang sangat menjunjung tinggi kebersamaan hubungan antara manusia dengan manusia, dengan alam, dan tentu saja dengan Tuhannya. Mantra sakral muncul dalam nyanyian-nyanyian musik aklung buncis, babarit, rajah pohaci, nyanyian sekelompok sinden, dan lain-lain. Juga bentuk kesenian lain yang di dalamnya mengungkapkan doa-doa kepada yang kuasa dengan cara diungkapan dengan nyanyian atau bunyi-bunyian/musik. Mantra lain yang penuh makna juga diucapkan ketika menumbuk padi, ngareremokeun pare, dan lain-lain. Isi dari mantra tersebut pada umumnya menjunjung tinggi hubungan dan penghormatan kepada yang kuasa dan para leluhur.

    Pagelaran sakral banyak sekali yang dimunculkan terutama yang berkaitan dengan misalnya tari pohaci yang disajikan secara khusu, di tempat serta waktu yang khusus bahkan penarinya pun khusus. Dalam upacara seren taun juga terdapat unsur-unsur seni yang berhubungan dengan mitos. Peristiwa ini berkaitan dengan kesuburan. Dalam hal ini manusia menempatkan bumi dan padi sebagai sesuatu hal yang harus dihormati. Hal ini karena dianggap sebagai sumber dari segala sumber kehidupan yang mendatangkan berkah. Hal ini mengandung makna dan mengingatkan manusia untuk membangkitkan kesadaran bahwa hidup manusia menyatu dengan alam (Subiantoro, 2002:92).

    Semua orang yang terlibat dalam upacara Seren Taun sejak persiapan, pelaksanaan, hingga pasca pelaksanaan dilakukan berdasarkan keikhlasan, kebersamaan, keyakinan, kegotong royongan, dan kepasrahan. Hal ini sebagai pendorong kekuatan dalam pengabdian pada pencipta, atasan, juga pada alam. Selain itu, setiap kelompok dalam yang berkaitan dengan upacara seren taun mempunyai maknanya masing-masing. Lengser sebagai simbol bahwa hidup adalah kesederhanaan yang harus diungkapkan dengan penuh kebahagiaan. Kelompok lulugu yaitu pemuda pemudi yang membawa bibit buah-buahan dan bibit padi mempunyai makna mereka adalah para generasi muda yang memiliki potensi yang lebih baik dari generasi sebelumnya. Bibit ini akan tumbuh dan berkembang untuk harapan masa mendatang yang diharapkan dapat menjadi bibit unggul sebagai harapan bangsa. Rombongan ibu-ibu pembawa tumpeng yang kemudian dimakan bersama oleh masyarakat, sebagai gambaran bahwa ibu-ibu harus menjadi tauladan mengurus keluarga dengan dengan penuh keikhlasan dan keadilan. Sementara kelompok bapa-bapak yang membawa umbi-umbian dan padi mempunyai makna bahwa bapak-bapak harus menjadi suri tauladan untuk bekerja giat menghidupi keluarganya dan mendidik anak-anaknya. Kelompok ibu-ibu yang membawa padi disuhun (disimpan di atas kepala) sebagai simbol bahwa ibu-ibu harus terus berdoa pada Tuhannya agar tidak putus membimbing putra putrinya dengan kasih sayang, kelembutan, dan kasih sayang serta kehalusan budi. Demikian halnya dengan kostum yang dikenakan oleh penari memiliki warna yang simbolis. Apok warna hitam bermakna sebagai kekuatan diri yang memancarkan keagungan dan percaya diri. Kain kebat bahwa bila manusia melakukan pekerjaan harus sampai tuntas. Karembong boeh larangyang berwarna putih berarti bersih, jujur, tawakal, dan selalu mengingat larangan-larangan Tuhannya. Sementara karembong merah bermakna sebagai sebuah keberanian dan menghilangkan nafsu angkara murka. Dan warna hiaju sebagai lambang kesuburan.

    Demikian kayanya simbol yang terkandung di dalam sebuah ritual Seren Taun sehingga masyarakat menganggap bahwa peristiwa budaya ini perlu terus dipelihara dan dilestarikan karena banyak mengandung makna yang dalam. Namun demikian, demikian belum semua masyarakat paham akan makna yang terkandung di dalamnya, tetapi dalam keseharian kehidupan masyarakat adat Paseban sangatlah menjunjung tinggi nilai-nilai yang tadi diungkapkan di atas. Oleh sebab itu Pangeran Djati Kusumah (Rama Djati) terus melestarikan peristiwa budaya ini agar maknanya semua dapat dipahami masyarakat.

    SEREN TAUN SEBAGAI PEREKAT KEBERSAMAAN

    Latar belakang budaya masyarakat Adat Paseban Cigugur Kabupaten Kuningan Provinsi Jawa Barat sangat beragam. Biasanya keragaman budaya dan plularitas kehidupan beragama ini kerap berujung pada disharmoni sosial. Pasalnya berawal dari standardisasi nilai yang dijadikan isntrumen untuk mengukur nilai agama dan kepercayaan lain (di luar keyakinan yang dianutnya) menggunakan standar tunggal, yaitu nilai-nilai yang diperjuangkan dan diyakini oleh kaum mayoritas. Dampaknya terhadap kaum minoritas adalah proteksi yang tidak arif.Jika terjadi perbedaan, maka di situlah awal dari perpecahan. Mereka (kaum mayoritas) tidak lagi mengakui eksistensi penganut keyakinan yang berbeda itu. Bahkan manusianya pun seolah-olah dianggap makhluk aneh yang begitu gampang diusir, dibubarkan, bahkan tidak sedikit berujung pada kekerasan fisik. Kita tidak bisa menghindar dari kenyataan bahwa Indonesia ini adalah negara yang plularis. Plularitas kehidupan beragama mestinya menjadi ajang pembelajaran untuk menemukan kebenaran transcendental yang hakiki, bukan mencari perbedaan yang bermuara pada konflik.

    Peta kehidupan keyakinan beragama di Indonesia khusesnya di daerah Cigugur Kabupaten Kuningan Jawa Barat terdiri dari keragaman agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang dilandasi oleh keragaman budaya suku bangsa. Semua itu hanya menjadi kajian akademis yang menarik, namun tidak berimplikasi pada kesalehan dalam konteks bersosial yang dilandasi oleh universalitas nilai-nilai agama dan kepercayaan. Agama dan kepercayaan adalah urusan pribadi umat dalam melakukan hubungan vertikal dengan Tuhannya. Sementara hubungan horizontal, mensyaratkan kompetensi insan beragama dalam merefleksikan nilai-nilai sosial sebagai instrument dalam mekanisme yang berlaku pada dunia sosial.

    Sebagai warga negara yang baik di alam demokratis mesti memiliki kesadaran dalam bersosial dan memahami fasilitas sosial. Kesadaran sosial akan berimplikasi pada integrasi berbangsa dan bernegara, sedangkan pemahaman fasilitas sosial akan mewujudkan bentuk interaksi sosial yang harmonis. Seiring dengan perubahan yang terjadi dalam dunia sosial, instrument yang digunakan dalam proses interaksi mengalami perubahan pula. Secara teknis komunikasi lebih praktis dan efektif, namun secara humanis tak ada lagi jalinan harmonis antarwarga dalam berinteraksi. Karena tidak ada lagi aktivitas yang dilakukan bersama danm engusung tujuan bersama. Hal ini sehubungan dengan tidak adanya instrument yang netral dan mampu merekatkan kembali keretakan-keretakan yang terjadi dalam realitas interaksi sosial. Kegiatan yang paling cocok untuk memberikan solusi terhadap masalah ini adalah aktivitas seni budaya lokal. Disamping sifatnya yang komunal, seni budaya lokal sangat mengutamakan kebersamaan. Maka masyarakat Adat Paseban tetap melestarikan upacara Seren Taun karena di dalamnya sangat kental dengan kebersamaan, gotong royong, saling menghargai, saling menghormati, dan sebagainya.

    Seren taun yang di dalamnya terdapat sebuah aktivitas budaya termasuk di dalamnya ada seni sebagai salah satu unsur kebudayaan dapat menjadi pemersatu masyarakat. Aktivitas seni budaya pada masyarakat Adat seolah menjadi satu kewajiban, sehingga rutin dilaksanakan setiap tahunnya. Hal ini disebabkan oleh tingginya keyakinan masyarakat akan nilai-nilai seni budaya yang terkandung di dalamnya. Upacara-upacara kesuburan masih digelar sebagai ungkapan rasa syukur dan pengharapan hasil pertanian yang melimpah ruah. Kesenian yang digelar dalam berbagai upacara ini hadir dalam berbagai bentuk serta ungkapan rasa yang khas setiap daerahnya. Aktivitas dan bentuk kesenian yang dihadirkan selalu berkaitan dengan konfigurasi sosial yang dipolakan secara kultural sesuai dengan kebudayaan dan adat istiadatnya. Hal ini dapat diartikan sesuai dengan budaya lokal yang berlaku.

    Memahami budaya dalam hal ini seni lokal diperlukan pemahaman terhadap corak setiap tradisi dalam masyarakat yang plural. Dalam masyarakat kita perlu ditanamkan keyakinan bahwa kearifan budaya lokal yang berkembang dimasyarakat adalah ajaran yang baik. Seringkali orang beranggapan bahwa budaya dan atau seni lokal tidak sesuai dengan tuntutan zaman, sehingga banyak terjadi kasus seni lokal itu hilang ditelan zaman. Padahal, setiap budaya dan atau seni lokal memiliki fungsi yang dapat dipahami. Seperti diungkapkan Malinowski dalam Koentjaraningrat (1987) bahwa segala aktivitas kebudayaan bertujuan untuk memuaskan kebutuhan naluri manusia yang berkaitan dengan kehidupannya. Dalam sebuah peristiwa budaya dalam masyarakat adat Jawa Barat tentu saja selalu hubungannya dengan ritual, hiburan, maupun pertunjukan.

    Teori aksi Parsons dalam kerangka sistem aksi sosial tertuang melalui salah satu konsepnya yakni institusionalisasi. Aplikasi dari teori ini yang pada dasarnya merupakan proses terciptanya sistem sosial sangat relevan apabila digunakan untuk melihat fenomena budaya di Cigugur Kabupaten Kuningan ini. Dalam konteks pranata kesenian, komponen para pelaku menyangkut peranan dari masing-masing pihak dan bagaimana sifat hubungan di antara golongan itu adalah persoalan yang akan dianalisis dengan pendekatan tipe-tipe penggolongan konsep institusionalisasi sebagai suatu proses, sebagai berikut: (1). Para pelaku dengan beraneka ragam orientasi memasuki tempat mereka harus berinteraksi; (2). cara pelaku berorientasi merupakan pencerminan dari struktur kebutuhannya dan bagaimana struktur kebutuhan itu telah diubah oleh penjiwaan pola kebudayaan; (3). Melalui proses interaksi tertentu, munculah kaidah-kaidah pada saat para pelaku saling menyesuaikan orientasi masing-masing; (4). Kaidah-kaidah itu timbul sebagai suatu cara saling menyesuaikan diri, dan juga membatasi pola-pola kebudayaan umum; dan (5). Selanjutnya kaidah-kaidah itu mengatur interaksi yang terjadi kemudian, sehingga tercipta keadaan stabil. Melalui cara-cara itu pola-pola institusionalisasi tercipta, dipelihara, dan diubah.Terhadap institusionalisasi sebagai suatu struktur, Parsons menyusun konsep dua mekanisme yang mengintegrasikan kepribadian ke dalam sistem sosial, yaitu mekanisme sosialisasi dan pengendalian sosial. Melalui pengoperasian kedua mekanisme itu, sistem-sistem kepribadian menjadi struktur, sehingga sepadan dengan struktur sistem-sistem sosial. Melalui mekanisme sosialisasi, dimana perilaku akan mau menyimpan energi motivasionalnya dalam peranan-peranan (sehingga mau mematuhi kaidah-kaidah) dan kepada para pelaku diberikan keterampilan untuk memainkan peranan masing-masing. Dan hal ini tampak dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Adat Paseban.

    PENUTUP

    Upacara seren taunyang selalu dilakukan oleh masyarakat adat Paseban Cigugur Kabupaten Kuningan Jawa Barat, merupakan sebuah peristiwa budaya yang di dalamnya ada keseimbangan antara etika, estetika, dan religi. Di dalamnya sarat dengan unsur-unsur kesenian yang menjadi alat ekspresi, alat komunikasi, dan alat pemersatu masyarakat. Seni dalam upacara seren taun diperlakukan sebagai sebuah media yang sangat strategis untuk mempersatukan masyarakat yang multicultur. Seni sebagai alat pemersatu sangat tepat digunakan dan sebagai media membentukan manusia untuk berperilaku saling menghormati, saling menghargai, bergotong royong, berlaku ikhlas, pasrah, selalu mengingat sang pencipta, dan lain sebagainya.

    Manusia mengenal etika dan estetika maka terjadilah sebuah bentukan upacara untuk mendekatkan diri kepada yang kuasa sebagai realisasi dari keyakinan diri. Manusia sebenarnya mampu mengevaluasi dirinya untuk menunjukkan bahwa manusia berbudaya. Bila evaluasi itu muncul setiap saat tentu perkembangan budaya akan semakin baik, semakin terarah, semakin menunjukkan eksistensinya dalam menghargai hidup yang tidak akan lepas dari hubungan manusia dengan manusia, alam dan Tuhannya. Oleh sebab itu, upacara seren taun tetap dipertahankan oleh masyarakat adat Paseban Cigugur Kuningan karena di dalamnya sarat dengan nilai-nilai lokal genius untuk membangun kebersamaan antar masyarakat.

    DAFTAR PUSTAKA

    Ekadjati, Edi S. 1995. Kebudayaan Sunda : Suatu Pendekatan Sejarah. Jakarta: Pustaka Jaya.

    Harver, Cox. 1970. The Feast of Fool. Harvard: Harvard University Press.

    Herdiani, Een. 2012. Pemberdayaan Masyarakat Adat Jawa Barat Berbasis Seni Budaya Lokal Menuju Harmoni Sosial. Laporan Penelitian, Stranas, Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung.

    Kayam, Umar. 1981. Seni Tradisi Masyarakat. Jakarta: Sinar Harapan.

    Koentjaraningrat, 1958. Metode-metode Antroplogi dalam Penyelidikan-penyelidikan Masyarakat dan Kebudayaan (Sebuah Ikhtisar). Djakarta: Universitas Indonesia Press.

    ____________, 1987. Sejarah Teori Antropologi. I., Jakarta: Universitas Indonesia Press.

    Subiantoro, Heri. 2002. Upacara Seren Taun Sebuah Ritual Keagamaan di Cigugur Kuningan Jawa Barat, Tesis, pada Fakultas Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, Universitas Gadjah Mada.

    Agenda

    Kabar

    Kontak Kami