Official Site - Kumpulan tulisan, gambar dan kliping kegiatan Dr. Hj. Een Herdiani S.Sn, M. Hum serta dunia seni tari dan pendidikan

  • last

    Jaipongan Dan Karakteristik Perempuan Sunda Kekinian


    Oleh : Een Herdiani

    Disampaikan dalam Seminar Internasional
    “Reformasi dan Transformasi Kebudayaan Sunda”
    Tnggal 9-10 Februari 2011 di Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran
    Jl. Raya Bandung-Sumedang Km. 21. Kabupaten Sumedang

    Abstrak

    Jaipongan sebagai salah satu genre tari di Jawa Barat sudah menjadi ikon tari Sunda. Jaipongan seakan menjadi sajian wajib apabila terdapat event-event pertunjukan tari Sunda baik di dalam maupun di luar negeri. Jaipongan identik dengan perempuan karena pada umumnya Jaipongan diciptakan untuk jenis perempuan. Perempuan berparas cantik dan bertubuh sintal merupakan image ideal sebagai penari Jaipongan.

    Banyak orang menganggap bahwa perempuan Sunda memiliki stereotype sebagai wanita-wanita yang cantik. Ada hal yang menarik bila hal itu dikaitkan dengan dunia tari. Tari sebagai bahasa tubuh yang diungkapkan oleh koreografer dan penarinya disajikan supaya dapat dibaca dan dipahami oleh penikmatnya. Banyak ungkapan tarian yang menggambarkan kehidupan suatu masyarakat. Demikian pula dalam ungkapan gerak tari Jaipongan.

    Penulis melihat bahwa tari jaipongan adalah tarian yang dapat memberi gambaran perempuan Sunda kekinian yang energik. Gerak Jaipongan yang atraktif dan dinamis mampu menunjukkan bahwa perempuan Sunda adalah perempuan yang penuh semangat, penuh perjuangan, kuat, ramah, lincah, dan kenes. Dibalik kelembutan tari Jaipong terdapat gerakan-gerakan gesit, “jalingkak” nan indah sebagai ungkapan karakter perempuan Sunda kekinian.

    Keyword : Jaipongan, Karakter, Perempuan Sunda, Kekinian.

    I. PENDAHULUAN

    Jaipongan merupakan salah satu bentuk seni tari yang mulai dikenal di Tatar Sunda sejak awal tahun 1980-an. Tarian ini lahir dari sebuah keinginan Gugum Gumbira untuk mengangkat seni rakyat yang saat itu berfungsi sebagai seni hiburan menjadi seni pertunjukan yang dapat dinikmati oleh semua kalangan masyarakat. Hasilnya, sangat mengejutkan, seni rakyat yang telah dikemas dalam bentuk baru yang diberi nama Jaipongan menjadi tarian yang sangat populer. Gugum Gumbira telah membuat terobosan baru dengan mengangkat genre tari rakyat menjadi sebuah seni pertunjukan lintas strata sosial. Kini Jaipongan telah menjadi ikon tari Sunda. Kehadiran Jaipongan menjadi sesuatu yang menyentuh rasa kecintaan masyarakat terhadap seni tari. Saat itu, demam Jaipongan pun terjadi di hampir seluruh pelosok tatar Sunda. Terutama mereka adalah para perempuan yang tidak terbatas usia dari anak-anak hingga dewasa.

    Banyak orang menganggap bahwa perempuan Sunda memiliki stereotif sebagai wanita yang cantik-cantik, pandai berdandan, ramah, tetapi pemalas. Hal ini sah-sah saja tergantung mereka melihat dari sudut pandang yang mana. Ada hal yang menarik dalam dunia tari. Tari sebagai bahasa tubuh yang diungkapkan oleh koreografer dan penarinya disajikan supaya dapat dibaca dan dipahami oleh penikmatnya. Banyak ungkapan tarian yang menggambarkan kehidupan suatu masyarakat. Demikian pula dalam ungkapan gerak tari Jaipongan.

    Penulis melihat bahwa Jaipongan adalah tarian yang dapat memberi gambaran perempuan Sunda kekinian yang energik. Gerak Jaipongan yang atraktif dan dinamis mampu menunjukkan bahwa perempuan Sunda adalah perempuan yang penuh semangat, penuh perjuangan, kuat, ramah, lincah, dan kenes. Disamping itu, keindahan dan kecantikan selalu ingin diungkapkan dan ditonjolkan. Dibalik kelembutan tari Jaipong terdapat gerakan-gerakan gesit, “jalingkak” nan indah sebagai ungkapan karakter perempuan Sunda kekinian.

    Perubahan penting terjadi dalam karakter perempuan Sunda yang dulu cenderung hanya yang “pasrah sumerah” terhadap penguasanya kini menjadi perempuan gesit yang tangguh dan penuh daya tarik. Di sini, Gugum Gumbira sebagai koreografer tari Jaipong telah mampu mengungkapkan perubahan penting dalam karakter perempuan Sunda. Benarkah demikian? Untuk itu, tulisan ini dimaksudkan untuk memberi sumbangan pandangan terhadap karakter perempuan Sunda dilihat dari sudut pandang estetika tari Sunda khususnya Jaipongan.

    II. JAIPONGAN DALAM MASYARAKAT SUNDA

    Istilah Jaipong sudah dikenal di daerah utara Jawa Barat khususnya Karawang sekitar tahun 1975. Jaipong sering diungkapkan oleh penari bodor (pelawak) dalam pertunjukan Banjet, ketika ia menirukan bunyi kendang. Ia adalah Askin (pemimpin Topeng Banjet dari Karawang) yang sering meminta Suwanda (tukang kendang) untuk mengisi atau mengiringi gerakannya dengan pukulan kendang. Istilah Jaipong saat itu tidak sepopuler ketika sudah dipergunakan oleh Gugum Gumbira untuk menamakan karya tarinya.

    Tahun 1978, Gugum mengkreasikan sebuah karya tari yang bersumber dari ketuk tilu, pencak silat, dan pertunjukkan rakyat lain yang langsung banyak menyita perhatian publik. Tarian tersebut lahir dari sebuah keinginan Gugum Gumbira untuk mengangkat seni rakyat yang saat itu berfungsi sebagai seni hiburan. Tarian tersebut dikemas menjadi pertunjukan dengan tujuan untuk dapat dinikmati oleh semua kalangan masyarakat. Gugum berkeinginan untuk mengangkat ciri mandiri tari Sunda yang dipandangnya memiliki nilai jual. Setelah melalui proses penciptan tari yang tergolong unik, Gugum melahirkan karyanya yang diberi judul Ketuk Tilu Perkembangan atau disebut juga Ketuk Tilu Gaya Baru. Tarian ini pertama kali dipertunjukkan di ASTI Bandung sebelum diikut sertakan dalam festival kesenian rakyat di Hongkong. Gugum Gumbira sendiri yang menjadi penarinya ia berpasangan dengan Tati Saleh.

    Sajian tersebut mengundang polemik yang cukup besar terutama bagi kalangan seniman tradisi. Kendatipun mendapat kecaman dari berbagai pihak Gugum tidak bergeming untuk tetap melahirkan karyanya yang lain. Masih dalam tahun yang sama, yaitu akhir tahun 1978, ia melahirkan tari Daun Pulus Keser Bojong dan Rendeng Bojong. Dengan ditampilkannya tarian tersebut berbagai forum diskusi dilakukan oleh organisasi pemerintah maupun swasta untuk merespon secara positif maupun negatif terhadap karya Gugum. Berbagai usulan dilemparkan para seniman dan budayawan untuk memberi nama pada genre yang dibuatnya. Maka muncullah istilah Jaipongan untuk menyebut karya-karya tari baru dari Gugum Gumbira. Hasilnya, sangat mengejutkan, seni rakyat yang telah dikemas dalam bentuk baru yang diberi nama Jaipongan menjadi tarian yang sangat populer. Gugum Gumbira telah membuat terobosan baru dengan mengangkat genre tari rakyat menjadi sebuah seni pertunjukan lintas strata sosial.

    Gugum secara sengaja membuat kreasinya kebanyakan berjenis tari perempuan. Hal itu dilakukan dengan alasan bahwa perempuan memiliki daya tarik yang menakjubkan. Dilihat dari cara berjalannya saja perempuan dapat menimbulkan daya tarik Apalagi bila diberi gerakan yang distilasi dengan mengutamakan keindahan gerak. Tidak disangkal pula bahwa fenomena yang menjadi salah satu faktor yang menjadi inspirasi terciptanya Jaipongan adalah melihat seorang sinden yang sedang menari dalam sajian Bajidoran . Dari keuletan dan semangatnya yang menggebu dalam berkarya saat itu, maka tahun 1980-an Gugum Gumbira mampu melahirkan tarian lain di antaranya Oray Welang, Toka-toka, Pencug, Sonteng, Setrasari, Rawayan, dan Kawung Anten. Pada umumnya tarian yang dibuat disertai dengan iringan karawitannya yang dibuat baru pula.

    Kemunculan Jaipongan yang atraktif dan dinamis, dalam waktu singkat digemari masyarakat luas. Laki-laki maupun perempuan beramai-ramai mempelajari Jaipongan. Demam Jaipongan pun melanda hampir seluruh lapisan masyarakat Jawa Barat. Pro dan kontra muncul di masyarakat karena Jaipongan telah dianggap mengeksploasi tubuh perempuan. Terutama yang dimunculkan lewat gerakan pinggul. Memang, pinggul merupakan salah satu wilayah perempuan yang memiliki daya sensual tinggi sehingga sebagian orang menganggap bahwa pinggul adalah wilayah privasi perempuan. Menurut pendapat masyarakat kebanyakan bahwa keprivasian itu perlu dijaga karena dapat mengundang gairah kaum laki-laki. Dengan adanya pro dan kontra mengenai masalah tersebut malah semakin mengangkat nama Jaipongan dan Jaipongan pun menjadi fenomenal.

    III. PEREMPUAN SUNDA

    Perempuan dalam masyarakat Sunda lama memiliki kedudukan tinggi dan dihormati. Seperti yang digambarkan dalam berbagai naskah historiografi tradisional. Demikian halnya diungkapkan Yakob Sumardjo bahwa “Perempuan dalam pandangan masyarakat Sunda lama, memiliki tempat terhormat. Meskipun tidak sampai pada kedudukan tempat terpenting dalam ruang publik, namun kedudukan perempuan amat terhormat dalam dalam ruang domestik, dan lebih-lebih dalam ruang batin manusia Sunda”.

    Hal ini dapat dilihat dalam cerita Pantun Sunda yang menjunjung tinggi tokoh Sunan Ambu sebagai tokoh yang dapat dijadikan andalan dalam memecahkan berbagai masalah, sehingga kedudukannya sangat dihargai. Penghormatan terhadap perempuan juga tergambar dalam Pantun Sunda Panggung Karaton. Disebutkan bahwa dunia atas yang kosong itu adalah kekemben layung kasunten, yang berarti bahwa perempuan sebagai azas dunia atas. Sementara dunia bawah bumi-tanah ini adalah kalakay pare jumarum. Langit itu perempuan dan tanah itu laki-laki, bila disatukan dan diharmonikan akan melahirkan kehidupan baru.

    Dalam pandangan kosmologi masyarakat Sunda lama, bahwa perempuan sebagai pemberi hidup, berkualitas transenden. Bahkan rumah dianggap sebagai perempuan. Perempuan adalah lokalitas, adalah rumah, adalah asal kehidupan. Pendapat tersebut penempatkan kedudukan perempuan Sunda lama sangat dihormati dan dihargai dalam ruang domestik. Artinya, penghargaan tersebut hanya sebatas ruang domestik, sementara kedudukannya dalam ruang publik sangat terbatas. Pembatasan ruang gerak bagi perempuan hingga saat ini masih terjadi dalam berbagai aspek kehidupan.

    Dari gambaran kedudukan perempuan dalam masyarakat Sunda lama, dapat dibaca bahwa perempuan Sunda memiliki karakter yang berwibawa, dapat dipercaya, kalem, lembut. Asumsi penulis terhadap kewibawaan perempuan dalam kemampuannya memecahkan masalah. Dengan demikian diyakini sosok Sunan Ambu adalah sosok perempuan yang pandai. Sunan Ambu merupakan kependekan dari susuhunan atau yang disembah. Yang berarti Ibu Kedewataan yang disembah, agung, dan berkuasa. ’Ibu” di sini bersifat keilahian. Sosok yang multiperan sebagai Dewi, Ibu yang sangat dihormati. Dengan demikian dapat ditafsirkan bahwa Sunan Ambu memiliki karakter yang berwibawa, kharismatik, penuh cinta kasih, pendidik, penolong, serta memiliki kekuatan melindungi.

    Perempuan yang mendominasi dalam tataran masyarakat Sunda juga digambarkan dalam cerita Mundinglaya Dikusumah. Ia adalah tokoh Dewi Asri yang mengajukan persyaratan lamaran Sunten Jaya dengan meminta seekor gajah putih, satu pasu usus nyamuk, satu pendil jantung semut, satu papanggungan yang besar dan indah, 25 kapal penuh bahan, 25 peti emas intan, 40 perangkat gamelan beserta pemainnya, 40 balandongan, 100 kandang kerbau dan sapi, serta 100 kandang ayam dan domba. Cerita lain adalah Nyi Sumur Bandung yang digambarkan bahwa ia mampu meminang Raja Munding Keling yang mampu mengalahkan 42 selir raja dengan Bantuan Sunan Ambu. Demikian pula dalam cerita Purbasari Ayuwangi yang mampu mengalahkan angkaramurka Purbararang dengan kesabaran dan kelembutan hatinya.

    Dari gambaran tokoh-tokoh perempuan yang terdapat dalam naskah-naskah cerita pantun tersebut sebagai historiografi tradisional dapat dibaca bahwa karakter perempuan Sunda lama di antaranya adalah berwibawa, kharismatik, penuh cinta kasih, pendidik, penolong, pelindung, penyabar, dan memiliki hati yang lembut. Dilihat dari karakter ini perempuan dalam masyarakat Sunda lama adalah perempuan yang sangat ideal sebagai sosok perempuan dalam dunia ini.

    Perempuan dalam cerita Pantun di atas sangat berbeda dengan historiografi modern. Sejarah hanya milik laki-laki yang dipenuhi dengan tema sejarah politik dan militer yang erat kaitannya dengan masalah kekuasaan dan keperkasaan. Hal ini dianggap tidak adil karena sebenarnya wanita dapat dipandang sebagai pribadi yang mandiri yang dapat menggerakkan sejarah.

    Perempuan dalam sosio-budaya lekat kaitannya dengan simbol-simbol seperti: lemah-lembut, keibuan, cantik, dan emosional. Sementara laki-laki memiliki simbol gender: kuat, perkasa, jantan, dan rasional. Dari simbol ini dapat dilihat bahwa muncul sebuah persepsi di mana perempuan lebih lemah dari kaum laki-laki. Dalam stratifikasi sosial masyarakat Sunda zaman feodal dikenal tiga lapisan masyarakat yaitu kaum menak (kelompok aristokrat) yang menempati lapisanmasyarakat paling atas; kaum santana (kelompok tengahdi antara kaum menak dan kaum cacah); dan kaum cacah/somah (kelompok lapisan paling bawah). Demikian halnya dengan perempuan. Ada perempuan yang termasuk kaum bangsawan yang selalu memiliki hak istimewa dengan segala fasilitasnya, dan ada wanita somah yang harus pasrah menerima statusnya sebagai rakyat kecil. Walaupun demikian perempuan yang hidup di kalangan bangsawan maupun somah tampaknya mereka memiliki karakter yang sama yaitu pasrah terhadap keadaan. Mereka diperlakukan seenaknya oleh para penguasa, termasuk orang tuanya sendiri.

    Sebagai salah satu contoh dalam kisah tentang tiga orang anak buah Dipati Ukur yang bernama Wirawangsa, Samahita, dan Astramanggala. Tiga orang tersebut mendapat kebebasan dalam tugas dan kewajibannya terhadap Sultan Mataram karena mereka dianggap berjasa telah bekerjasama dalam menangkap Dipati Ukur yang dianggap berkhianat kepada Sultan Mataram. Dengan anugrah yang diberikan kepada mereka dari Sultan Mataram, maka mereka pun membalas dengan kesepakatan mempersembahkan tiga gadis cantik. Sultan merasa senang dan mereka pun diangkat menjadi mantri agung.

    Sangat jelas sekali bahwa wanita dianggap sama dengan benda yang dapat dipersembahkan sebagai upeti. Di samping itu banyak sekali contoh-contoh lain misalnya perempuan yang sering dijadikan selir-selir, atau ada juga dalan Wawacan Sajarah Galuh yang mengisahkan tentang Nyi Tandaruan Gagang seorang putri keturunan Padjadjaran yang mengalami nasib tragis. Ia mula-mula dinikahi Sultan Cirebon, kemudian bercerai dengan alasan bahwa bagian badannya dapat mengeluarkan api. Kemudian ia pun dinikahi Sultan Banten, tidak lama kemudian cerai pula dengan alasan yang sama. Akhirnya ia pun dinikahi Sultan Mataram, yang juga mengalami nasib sama. Kemudian ketiga sultan tersebut sepakat untuk menjual Nyi Tandaruan Gagang kepada pemerintah Inggris (dalam bagian lain ke pemerintah Belanda) yang kemudian pemerintah asing tersebut menukarnya dengan tiga buah meriam. Di sini perempuan tidak bisa berbuat apa-apa, ia hanya asrah terhadap keadaan. Karakter yang bisa dibaca dari cerita ini bahwa perempuan Sunda adalah penyabar, dan menerima atau pasrah.

    Perempuan Sunda mulai tampak dengan adanya perlawanan terhadap keadaan yang melingkupinya adalah ketika adanya Raden Dewi Sartika putri dari Raden Adipati Wiranatakusumah IV (1846-1876). Dari keberanian Raden Dewi Sartika untuk merobah keadaan karakter dan kedudukan perempuan, muncul sekolah istri yang kemudian berkembang menjadi Sakola Kautamaan Isteri. Dengan adanya sekolah ini banyak para perempuan yang memiliki kemampuan keterampilan. Ia dianggap perempuan kaum menak yang independen. Ia memiliki karakter yang tegar dan pemberani hingga mampu mewujudkan cita-citanya untuk memajukan kaum wanita. Maka lahirlah perempuan-perempuan seperti dia dalam masyarakat Sunda. Penyabar, tegar, dan pemberani.

    IV. KARAKTER PEREMPUAN SUNDA DALAM JAIPONGAN

    Karakter perempuan Sunda yang telah digambarkan di atas, dalam masyarakat Sunda lama yang dilukiskan dari cerita Pantun seperti tokoh Sunan Ambu, Dewi Asri, Nyi Sumur Bandung, maupun Purbasari, adalah berwibawa, kharismatik, penuh cinta kasih, pendidik, penolong, pelindung, penyabar, tegar dan memiliki hati yang lembut. Demikian halnya yang digambarkan dalam sejarah terutama ketika Raden Dewi Sartika yang hidup di kalangan menak yang merasa tertekan dengan keadaan. Ia berani berjuang untuk kaumnya agar mendapat perlakuan yang sama dengan pria. Dari gambaran cerita Raden Dewi sartika tersebut dapat dibaca bahwa karakter perempuan saat itu adalah, sabar, tegar, dan penuh perjuangan, tetapi sikap sopan santun tetap dijaga.

    Kehidupan masyarakat dari zaman ke zaman terus berubah sesuai dengan perubahan sosial masyarakatnya. Demikian halnya dengan karakter perempuan masyarakat Sunda, muncul perubahan-perubahan yang signifikan dalam perilaku menyikapi kehidupan.

    Perubahan karakter perempuan Sunda tersebut tergambar dalam sebuah karya tari yang dikreasikan oleh Gugum Gumbira yaitu Jaipongan. Jaipongan yang lahir akhir tahun 1970-an dan populer tahun 1980-an ini memunculkan karakter perempuan yang semakin membuka diri. Pada masa tersebut termasuk sebagai masa orde baru yang dapat dikatakan bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat semakin meningkat. Salah satu faktornya adalah kondisi sosial, politik, dan ekonomi saat itu dalam keadaan “stabil”. Situasi dan kondisi tersebut sangat berpengaruh terhadap karya-karya tari.

    Kehidupan tari yang sebelumnya, atau yang hidup sebelum lahirnya Jaipongan, masih memperlihatkan sikap-sikap feodal yang banyak aturan dan larangan. Misalnya perempuan di kalangan menak tabu untuk menari karena citra penari yang dulu populer dengan istilah ronggeng sangat jelek di mata masyarakat kaum bangsawan. Oleh sebab itu perempuan tidak diizinkan untuk menari. Sementara yang boleh menari adalah para kaum menak laki-laki saja. Kendatipun dalam sajian Tayuban yang sangat populer di kalangan menak ada perempuannya itu adalah perempuan yang berasal dari kaum somah, yaitu penari-penari ronggeng dari kalangan rakyat.

    Tahun 1930-an mulcul karya R. Tjetje Somantri yang mampu merubah image penari perempuan dari pandangan tabu menjadi tidak tabu lagi, karena ia menciptakan tari-tarian perempuan di kalangan menak. Karakter tarian yang diungkapkan sebatas keceriaan dengan penuh keanggunan. Gerak-geraknya yang halus, lembut, dengan aturan-aturan pola gerak yang sesuai dengan etika perempuan menak yang dianggap masyarakat kebanyakan memiliki tingkat kesopanan yang wajar sebagai perempuan kalangan menak.

    Ketika muncul karya-karya Jaipongan, baik yang dikresikan oleh Gugum Gumbira sebagai pelopornya, maupun oleh kreator-kreator generasi penerusnya. Ternyata karakter tarian yang diungkapkan sangat berbeda dengan tari-tarian sebelumnya. Tari perempuan yang diungkapkan memiliki ungkapan gerak yang lebih bebas dan luas. Dilihat dari gerakan kepala, tangan, badan, maupun kaki tampak sangat leluasa. Salah satu faktor yang menyebabkan lahirnya gerakan-gerakan yang lebih leluasa, sebab sumber gerak yang diambilnya adalah berasal dari kalangan rakyat. Sumber utamanya dari Ketuk Tilu yang juga di dalamnya ada unsur Pencak Silat kemudian dilengkapi dengan sumber lain dari pertunjukan rakyat di daerah kaleran. Seperti Banjet dari Karawang maupun Bajidoran dari Subang dan Karawang.

    Ciri utama dalam sajian seni rakyat memiliki kebebasan dalam berkespresi tidak terpaku oleh aturan-aturan baku yang membelenggu ruang gerak. Selain itu, gerakan tari perempuan dalam Jaipongan dikreasikan dari gerakan pencak silat yang tidak memandang jenis kelamin. Ungkapan gerak pencak silat baik untuk perempuan maupun laki-laki adalah sama, tidak ada perbedaan yang signifikan. Gerakan pencak yang dituangkan dalam tari Daun Pulus Keser Bojong, misalnya, menjadi gerakan yang cantik dan indah diungkapkan oleh perempuan karena gerakan pencak telah distilir kedalam gerakan tari. Gerak gibas, tangkis, giwar, meupeuh dan sebagainya menjadi ungkapan yang tidak kentara sumber geraknya, padahal gerak tersebut memiliki makna dan simbol yang jelas.

    Beberapa contoh gerakan dalam Jaipongan akan dibaca bagaimana hubungannya dengan karakter perempuan Sunda yang kekinian. Gerakan cingeus yang diungkapan melalui gerak kepala maupun badan sebagai gambaran karakter perempuan yang gesit penuh antusias dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan ini. Kegesitan terungkap pula dalam gerakan kaki, seperti meloncat, depok, ngerecek, mincid, sirig, sonteng, dan sebagainya. Hal ini bisa juga dibaca bahwa perempuan Sunda hampang birit. Dari gerakan kaki dapat juga dibaca bahwa perempuan Sunda masa kini banyak yang “jalingkak”.

    Tidak seanggun perempuan masa lalu yang andalemi dibalik bungkusan kain kebaya. Gerak galeong badan dan kepala yang mengalir legato disertai dengan lirikan mata dan senyuman genit. Sebagai gambaran karakter perempuan yang kenes. Gerakan tangan dan kaki yang terbuka lebar, sebagai gambaran karakter yang terbuka dan memiliki kekuatan serta jujur. Gerak liukan tubuh yang lentur dari ujung kaki hingga kepala sebagai gambaran karakter yang fleksibel tidak kaku dalam menghadapi berbagai persoalan. Apabila dilihat dari tempo dan dinamika gerakan maupun musik yang variatif seperti ada tempo cepat, lambat, sedang, yang dikreasikan dalam Jaipongan dapat dibaca dan dimaknai bahwa karakter perempuan Sunda kekinian tidak monoton, penuh dinamika, dalam arti tidak membosankan.

    V. KESIMPULAN

    Jaipongan sebagai sebuah genre baru dalam pertunjukan tari di Jawa Barat merupakan bentuk ekspresi yang dikomunikasikan kepada para penikmatnya lewat gerak. Sebagai sebuah seni pertunjukan Jaipongan dapat disebut media komunikasi yang diungkapkan melalui medium gerak antara kreator (seniman) dan apresiator, yang kemudian dapat ditafsirkan oleh keduanya. Jaipongan diciptakan oleh kreator dengan tafsir dan maknanya sendiri. Kemudian Jaipongan ditonton atau diapresiasi oleh penikmat seni dengan tafsir dan makna tersendiri pula. Oleh sebab itu penulis sebagai penikmat memberi makna tersendiri dalam menafsirkan gerakan Jaipongan.

    Jaipongan sebagai bentuk seni mengandung simbol-simbol tertentu yang dapat dibaca dan ditafsirkan oleh setiap orang. Simbol menjadi sesuatu yang penting bagi manusia. Penulis membaca Jaipongan mengandung simbol sebagai pemberontakan dan kebebasan dari kaum perempuan yang selalu terbelunggu dengan berbagai aturan yang sangat mengikat, sehingga membatasi ruang gerak dari kaum perempuan. Dari ungkapan gerak yang dituangkan dalam Jaipongan dapat memberi gambaran bahwa karakter perempuan Sunda kekinian di antaranya penuh semangat, ramah, berani, kuat, jujur, kenes/genit, pejuang, hampang birit atau gesit, lincah, dan tidak membosankan. Di samping itu, perempuan Sunda kekinian banyak yang jalingkak seperti banyak terungkap dalam gerak Jaipongan.

    Banyak orang berpendapat bahwa perempuan Sunda adalah pemalas, namun bila membaca Jaipongan pendapat itu sudah tidak relevan lagi sebagai karakter perempuan Sunda kekinian. Sementara pendapat mengenai perempuan Sunda cantik dan senang berdandan, hal itu tidak dapat dipungkiri karena bila melihat tampilan penari Jaipongan tentu akan terpesona dengan dandanannya yang selalu ingin menonjolkan kecantikan.

    Daftar Sumber:

    Azis, Abdul. 2007. “Pencugan Merupakan Kreativitas Tari Jaipongan”, dalam Endang Caturwati (ed) Gugum Gumbira dari Chacha ke Jaipongan, Bandung: Sunan Ambu Press.

    Caturwati, Endang. 2009. “Sosok Perempuan dalam Masyarakat Sunda: Sunan Ambu, Dewi Sri, dan Ronggeng” dalam Caturwati, Endang (ed). Pesona Perempuan dalam Sastra & Seni Pertunjukan. Bandung: Sunan Ambu Press.

    Herlina Lubis, Nina. 2000. “Wanita Sunda dalam Perjalanan Sejarah Menuju Masyarakat Madani”. Bandung.

    Kuntowijoyo, 1988. “Sejarah Wanita: dari Sejarah Androsentris ke Sejarah Androginous”. Makalah dalam Seminar Wanita. Yogyakarta. MSI Cabang Yogyakarta. 1988.

    Sumardjo, Jakob. 2003. Simbol-simbol Artefak Budaya Sunda: Tafsir-Tafsir Pantun Sunda. Bandung: Kelir.

    Bandung, Januari 2011

    Agenda

    Kabar

    Kontak Kami