Official Site - Kumpulan tulisan, gambar dan kliping kegiatan Dr. Hj. Een Herdiani S.Sn, M. Hum serta dunia seni tari dan pendidikan

  • last

    “Doger” Rekonstruksi Warisan Seni Rakyat Dari Hiburan Ke Pertunjukan


    Oleh: Een Herdiani
    Disampaikan dalam Asia Folklor Congress
    7-9 Juni 2013 di Hotel Inna Garuda Yogyakarta

    Doger merupakan bentuk kesenian rakyat berfungsi hiburan yang hidup subur di daerah perkebunan Subang Jawa Barat pada masa pemerintahan Hindia-Belanda. Sejak diberlakukan Undang-undang Agraria (Agrariche Wet) tahun1870 oleh pemerintahan Hindia Belanda, perkebunan di Jawa Barat terus menunjukkan kemajuan pesat. Pekerja-pekerja asing dan pribumi mewarnai kehidupan di perkebunan. Perkawinan silang terjadi antara orang Belanda dengan masyarakat pribumi hingga terjadi silang budaya di antara mereka. Untuk memenuhi kebutuhan kesenangan merekam setiap akhir minggu,di perkebunan selalu diramaikan dengan sajian seni rakyat yang dikenal dengan sebutan doger.

    Doger merupakan nama lain dari seni ronggeng yang muncul dari masyarakat kecil. Dengan alat musik yang sederhana kelompok doger menghibur masyarakat perkebunan baik untuk bangsa Belanda maupun masyarakat pribumi. Arena sajian doger/ronggeng menjadi ajang bisnis dan ajang prestise yang melibatkan berbagai unsur. Kemeriahan selalu terpancar dalam suasana sajian doger walaupun secara paradok terdapat pula orang-orang tertindas dengan berbagai perilaku yang tidak seirama.

    Dewasa ini, doger sudah tidak dapat ditemukan lagi hanya tinggal kenangan saja karena para pewarisnya telah tiada. Pada tahun 1990-an kesadaran akan kehilangan seni doger dari para seniman maupun para pakar pendidikan seni di Jawa Barat baru muncul. Tim peneliti yang juga sekaligus sebagai seniman melakukan rekonstruksi dengan menggali dari seniman doger yang masih ada. Diawali dengan proses penelitian yang cukup memakan waktu panjang akhirnya rekonstruksi tersebut dapat mewujudkan hasilnya. Hasil dari rekonstruksi tersebut diberi nama Doger Kontrak. Dengan menggunakan konsep kemasan seni pariwisata akhirnya tari doger kontrak digemari masyarakat sehingga seringkali ditampilkan dalam berbagai event.

    Kata kunci: Doger, Rekonstruksi, Seni Hiburan, Seni Pertunjukan.


    PENDAHULUAN

    Doger merupakan salah satu bentuk pertunjukan rakyat yang hidup di daerah Subang dan Karawang Provinsi Jawa Barat. Doger juga merupakan sebutan bagi penari atau penyanyi perempuan yang ada dalam pertunjukan kesenian tersebut. Dalam seni hiburan rakyat lainnya di beberapa daerah di Indonesia istilah doger sama dengan ronggeng, tandhak, tlédhék,dan lain-lain. Istilah-istilah tersebut muncul dari kalangan masyarakat itu sendiri. Sebutan ronggeng, doger, dan sejenisnya diperuntukkan bagi seorang perempuan yang memiliki kemampuan menyanyi dan menari dalam pertunjukannya. Berperan untuk melayani para penonton yang bermaksud ikut menari dalam acara hiburan tersebut. Bahkan para penonton ini cukup berkuasa untuk meminta lagu atau tarian kepadanya. Konsekuensinya para pengguna jasa doger atau ronggeng harus memberi imbalan biasanya berupa uang. Siapa pun dalam hal ini adalah para penonton yang hadir dalam acara tersebut diperbolehkan untuk memilih doger/ronggeng untuk menjadi pasangan menarinya. Seperti dalam doger,ketuk tilu, dombret, ronggeng gunung, ronggeng kaler, ronggeng ketuk, dan sejenisnya. Seni doger juga serupa dengan salah satu jenis kesenian di Jawa Tengah yaitu Tayub.Ben Suharto (1999:65) berpendapat seperti berikut:

    ...penari wanita yang mempunyai beberapa istilah seperti misalnya: ronggeng, taledhek (tledek, ledhek), tandhak. Istilah tersebut sebenarnya sama artinya penari wanita yang di daerah tertentu kemudian berubah arti untuk hal atau pengertian yang lebih spesifik. Misalnya istilah ronggeng inilebih banyak dipakai untuk menyebut penari-penari wanita yang ngamen dari tempat satu ke tempat lain sebagai penari jalanan. Ronggeng sendiri dalam konteks ini tidak harus berpasangan dengan lelaki sewaktu menari. Dengan begitu ia lebih mirip betul sebagai penghibur yang menjelajahi desa dan kota dengan penabuh seadanya. Setiap kali berhenti di pinggir-pinggir jalan dan berpayah menari serta menyanyi hanya untuk menunggu dan berharap belaskasihan orang memberinya sekedar rejeki uang kecil seikhlasnya...

    Melihat pendapat di atas, kehidupan ronggeng/doger cukup menyedihkan namun mereka profesioanal dengan profesinya mereka mencari uang untuk menopang kehidupannya. Demikian halnya dengan para doger di Subang maupun Karawang. Mereka mencari nafkah dengan mengamen di perkebuan-perkebunan. Menjelang akhir pekan biasanya kesenian ini di gelar, sebagai konsumsi bagi masyarakat pekerja kontrak bangsa asing maupun kuli kontrak dari masyarakat pribumi. Dalam arena hiburan tersebut selalu diwarnai dengan minuman-minuman yang memabukkan. Suasana hiburan tersebut juga tidak lepas diwarnai dengan ajang perjudian yang diperkirakan pula terjadi prostitusi terselubung (Wawancara, Suwanda, Karawang, Juni 2011).

    Sejak diberlakukan Undang-undang Agraria (Agrariche Wet) tahun 1870 oleh pemerintahan Hindia Belanda, perkebunan di daerah Priangan terus menunjukkan kemajuan pesat. Pekerja-pekerja asing dan pribumi mewarnai kehidupan di perkebunan. Para pekerja Asing dari Eropa yang banyak di datangkan ke Indonesia pada umumnya masih perjaka, maka berkembang adanya fenomena pergundikan, pelacuran, serta hiburan-hiburan seni yang menyajikan ronggeng. Di daerah perkebutan Bogor, Batavia, dan Priangan sajian ronggeng ini merupakan hiburan primadona (Caturwati, 2006:28). Salah satunya adalah seni doger yang populer di daerah Subang dan Karawang.

    Secara tekstual, sajian ronggeng diawali dengan tatalu yaitu memainkan musik pembuka dengan tujuan untuk mengundang atau memberikan tahu masyarakat bahwa sajian hiburan akan segera dimulai. Selanjutnya ada lagu pembuka yaitu lagu kidungatau kembang gadung yang isinya memohon kepada Tuhan dan para leluhurnya untuk kelancaran penyelenggaraan acara tersebut. Dilanjukan dengan memunculkan doger-doger-nya untuk menampilkan kemampuan mereka dalam menyanyi dan menari. Pada kesempatan tersebut biasanya para penonton yang datang dan bermaksud untuk mencari hiburan dan menggunakan jasa doger sudah menaksir-naksir doger mana yang akan dipilih nanti sebagai pasangan menarinya. Usai para doger menari masuk pada sesi para penonton yang mempertunjukkan kebolehannya dalam menari. Para penonton ini biasanya adalah para penggemar yang mempunyai latar belakang jawara atau para jago silat. Tidak mengherankan dalam penampilannya mereka membawa perkakas seperti golok dan sebagainya. Bagian ini yang kebudian disebut adu jago. Setelah mereka tampil baru meminta lagu dan meminta doger untuk menemani. Setelah itu acara bebas menari berpasangan. Kesempatan-kesempatan itulah yang digunakan oleh para lelaki hidung belang untuk melakukan aksinya. Hiburan yang mereka lakukan biasanya hingga larut malam (wawancara, Ma Dasih, Karawang, 1996).

    Tidak dipungkiri bahwa doger dan perkebunan di Priangan pada masa lalu merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Para kuli betah bekerja di perkebunan karena salah satunya terdapat hiburan doger sedangkan doger akan betah juga menghibur di perkebunan karena sawerannya menjanjikan. Untuk menghibur para kuli kontrak di area perkebunan, pihak kolonial mendatangkan wanita-wanita cantik dari pantai utara Pamanukan dan Semarang yang dikenal dengan sebutan cokek dan doger yang ditampung di rumah khusus yang kemudian difungsikan sebagai wanita penghibur (Caturwati, 2006:39). Dampak dari hiburan-hiburan yang dilakukan di perkebunan, beberapa orang asing sebagai penguasa perkebunan di Priangan, tertarik untuk mempelajari kesenian terutama untuk memainkan gamelan. Pada akhirnya mereka menjadi pengayom kesenian di Perkebunan.

    Sejalan dengan lajunya waktu, berubahnya sosial budaya apalagi setelah bangsa asing terusir dari Priangan karena telah merdekanya Indonesia. Maka sangat berdampak pada perubahan bentuk dan fungsidari kesenian. Termasuk seni ronggeng atau doger. Di mana kesenian ini ada yang berubah fungsi dari hiburan menjadi pertunjukan. Dengan pulangnya para penguasa asing ke negaranya, maka seni doger pun raib tanpa terdengar lagi gaungnya. Terutama setelah munculnya kebijakan-kebijakan pemerintah untuk memperbaiki citra seni-seni hiburan. Setelah bertahun-tahun lamanya seni doger hilang ditelan zaman, muncul para pemikir dan peneliti seni dari tingkat akademisi untuk merevitalisasi seni doger agar bisa diangkat ke seni pertunjukan. Tim ini kemudian berhasil merivitalisasi seni tersebut yang dikemas sedemikian rupa untuk diangkan menjadi seni pertunjukan yang juga didukung oleh konsep seni pariwisata. Muncullah nama tarian doger kontrak.


    DOGER SEBAGAI SENI HIBURAN

    Seni pertunjukan di Indonesia memiliki tiga fungsi primer yaitu untuk kebutuhan ritual, hiburan pribadi, dan presentasi estetis (Soedarsono, 1999:5). Berdasarkan dari konsep tersebut memang sangat relevan dengan keberadaan seni pertunjukan di Indonesia. Pada awalnya embrio seni pertunjukan lahir untuk kebutuhan ritual. Sejalan dengan perkembangan zaman dengan adanya perubahan sosial seni ritual mengalami perubahan fungsi dari ritual ke hiburan. Tari hiburan identik dengan tari kegembiraan dan tari pergaulan, dikenal juga dengan istilah social dance. Jenis tarian ini dipergunakan sebagai sarana untuk mengungkapkan rasa kegembiraan, biasanya disajikan oleh pria dan wanita. Kata hiburan itu sendiri biasanya dipergunakan untuk mengungkapkan rasa kegembiraan dalam melampiaskan rasa duka lara. Sebagai ungkapan rasa kegembiraan, bentuk kesenian ini tidak menitikberatkan pada segi estetiknya tetapi lebih menitikberatkan pada kesenangan pribadi atau kalangenan. Oleh sebab itu, dalam pengungkapan gerak pun seenak diri yang menari saja atau sekehendak hati dari orang yang sedang menari. Hal ini dipahami karena tujuan utama dalam tari pergaulan ini mengutamakan fungsi hiburannya sebagai pelipur lara (Azis dan Barmaya, 1983: 6).

    Hiburan memang dapat diartikan secara luas terutama yang berkaitan dengan kepuasan bathin seseorang maupun kelompok. Juga dapat diartikan sebagai sesuatu yang menyenangkan yang dapat mengurangi rasa penat dari kegiatan rutinitas sehari-hari. Hiburan dapat dijadikan sebagai alat pelampiasan ketegangan batin yang setidaknya dapat mengurangi beban-beban fikiran yang mewarnai kehidupan manusia. Pada zaman kolonial, dalam masyarakat perkebunan hidup seni hiburan yang disebut doger.Doger yang berkembang di kalangan masyarakat perkebunan dikategorikan sebagai tari rakyat. Tari rakyat umumnya berbentuk tari gembira atau tari pergaulan yang juga disebut tari sosial (social dance). Sebagaimana Humardani berpendapat bawa seni rakyat sifatnya tunggal untuk semua yang hadir tanpa pemisahan atau tanpa jarak keterlibatan di antara penyajian dan penghayat demikian halnya di antara pemain dan penghayat. Dari keberadaan tidak ada keterbatasan di antara keduanya itu, maka sifat spontanitas sangat leluasa hadir dalam seni rakyat, itulah salah satu ciri khas dari bentuk kesenian/tari rakyat (S.D Humardani, 1979-1980:61).

    Tari hiburan identik dengan tari kegembiraan dan tari pergaulan. Kesenian ini dipergunakan sebagai sarana untuk mengungkapkan rasa kegembiraan, biasanya disajikan oleh pria dan wanita. Kata hiburan itu sendiri biasanya dipergunakan untuk mengungkapkan rasa kegembiraan dalam melampiaskan rasa duka lara. Sebagai ungkapan rasa kegembiraan, bentuk kesenian ini tidak menitikberatkan pada segi estetiknya tetapi lebih menitikberatkan pada kesenangan pribadi atau kalangenan. Oleh sebab itu, dalam pengungkapan gerak pun seenak diri yang menari saja atau sekehendak hati dari orang yang sedang menari. Hal ini dipahami karena tujuan utama dalam tari pergaulan ini mengutamakan fungsi hiburannya sebagai pelipur lara (Azis dan Barmaya, 1983: 6).

    Dalam sajian doger terdapat unsur-unsur yang cukup menonjol, yaitu spontanitas, seronok, dan humoris baik di dalam gerak maupun syair lagunya. Tidak heran apabila dalam sajian dogerpenonton bisa tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan para pengibing yang lucu (Salam [1], wawancara, di Bandung, 19 Juni 2011). Doger sebagai seni rakyat yang menjadi tempat untuk mencurahkan kesenangan pribadi masyarakat perkebunan menjadi pengobat kepenatan dalam pekerjaan berat sehari-hari dari masyarakat tertentu. Tampak juga ada unsur demokratisasi dalam cara pengungkapan idiom-idiom gerak. Setiap orang bebas melakukan gerak apa pun tanpa norma yang baku, yang penting pelaku mempunyai kepekaan terhadap lagu. Kekuatan akan muncul jika pelaku memiliki kemampuan dalam pencak silat, apalagi jika memiliki kemampuan menari yang kuat hingga mampu melakukan improvisasi gerak yang akan memunculkan gerak yang variatif.

    Polarisasi gerak cenderung mengungkapkan pada kekuatan perasaan sehingga secara spontan dalam mengungkapakan dirinya secara bebas. Ipada bagian menari bebas selalu diwarnai adanya ibing saka yaitu sakainget, sakadaek yang artinya menari sesuka hati, terkadang tanpa mengindahkan etika maupun estetika. Ia bisa menari keluar masuk arena sesuka hati Politik Etis, kehidupan masyarakat Priangan menunjukkan terjadinya perubahan sosial. Perubahan ini tampak dengan meningkatnya status sosial baik di kalangan rakyat maupun di kalangan elite, salah satunya disebabkan oleh meningkatnya sosial-ekonomi. Bahkan di kalangan elite memunculkan elite-elite baru. Di samping itu, banyak pedagang yang kemudian menjadi saudagar (Lubis et al., 2011: 70-71). Demikian pula dengan berkembangnya perkebunan-perkebunan. Di perkebunan-perkebunan setiap akhir pekan ada hiburan ronggeng/doger.

    Kemunculan seni Doger di perkebunan-perkebunan kemungkinan besar berawal dari hadirnya ronggeng pengamen yang datang ke daerah-daerah perkebunan. Kemungkinan lain adalah ketika berkembangnya budaya perkebunan di daerah Priangan. Sejak itu, pertunjukan doger digelar hampir setiap akhir pekan, untuk menghibur para kuli kontrak. Dalam perkembangannya, muncul ekses-ekses negatif yang menghiasi arena pertunjukannya. Minuman keras, perjudian, pemborosan, hingga anggapan prostitusi terselubung terjadi dalam arena ini. Ketika hiburan berlangsung, para penonton dapat meminta lagu kepada doger, menari bersama doger, juga dapat mengajaknya keluar arena hiburan yaitu ke tempat yang gelap untuk beberapa waktu, tentunya dengan imbalan uang (Darsim, wawancara, di Subang, 8 Februari 1999). Dalam perkembangannya muncul istilah baru terhadap kesenian ini yaitu dengan sebutan Doger kontrak yang mungkin dikaitkan dengan istilah kuli kontrak dalam sistem perkebunan. Kemungkinan lain bahwa bahwa doger dapat dikontrak oleh para tuan tanah sebagai pemilik dan pengelola perkebunan (Heriyawati, 2004: 33). Di daerah-daerah perkebunan memang marak tentang adanya kawin kontrak.

    Adanya peningkatan status sosial dalam masyarakat Priangan, meningkatkan pula kebutuhan akan hiburan. Maka tidak mengherankan bila banyak orang (laki-laki) sering mendatangi tempat-tempat hiburan, khususnya hiburan yang bersifat pribadi seperti Ronggeng, Doger, dan sejenisya.Ketika perkebunan semakin maju, maka penghasilan para tenaga kerja pun semakin meningkat pula. Tingkat kebutuhan hiburan pun semakin tinggi yang biasa dilakukan oleh para pekerja ini di akhir pekan. Doger pun menjalankan profesinya untuk mendapatkan uang lebih banyak dari para penggemarnya. Semakin meningkatnya tingkat perekonomian masyarakat, semakin banyak orang yang membutuhkan hiburan. Semakin maraknya hiburan rakyat pada masa kolonial semakin terpuruklah citra dari seorang ronggeng/doger yang selalu dipandang negatif oleh masyarakat luas.

    PROSES REKONSTRUKSI DOGER

    Kehidupan dogersebagai seni yang berfungsi hiburan pribadi atau pergaulan (social dance) terus hidup di kalangan masyarakat perkebunan. Demikian halnya dengan kesenian sejenis seperti ronggeng, ronggeng gunung, ronggeng ketuk,ketuk tilu, dan sebagainya,terus hidup di masyarakat umum khususnya di kalangan rakyat biasa dan mendapat tempat di hati rakyat Priangan. Tradisi mengamen seni doger terus berjalan penuh dinamika, timbul tenggelam yang diakibatkan adanya pro dan kontra masyarakat Priangan. Masyarakat yang kontra pada umumnya adalah datang dari kaum ulama dan para menak. Sebagai ekses dari citra negatifdoger/ronggeng, para perempuan di kalangan menak tidak dianjurkan untuk menari di muka umum (Ardjo, 2007: 5), bahkan tabu untuk menari. Namun demikian dogerdan beberapa bentuk kesenian serupa yang hidup di masyarakat masih terus hidup karena masih dibutuhkan oleh masyarakatnya, terutama oleh para kaum lelaki.

    Seiring berjalannya waktu, menjelangkemerdekaan Indonesia, sejak tahun 1944 hingga terjadi peperangan pada tahun 1945, kehidupan sosial, ekonomi, dan politik terganggu. Masyarakat mulaik hawatir dengan keadaan keamanan negara yang mulai labil. Oleh sebab itukehidupan kesenian tidak lag iterdengar famornya. Keselamatan diri dan negara diutamakan sehingga orang tidak ingat lagi dan tidak membutuhkan hiburan. Kehidupan kesenian pun vakum karena tidak lagi dibutuhkan dalam situasi tersebut. Para pelaku kesenian pada umumnya mengungsi menghindari peperangan yang terjadi. Demikian halnya dengan para pelaku doger Kesenian tersebut hilang ditelan kecamuknya peperangan dalam membela negara.

    Setelah masa kemerdekaan dan keadaan politik mulai dapat dikendalikan di beberapa tempat muncul kesenian sebagai transformasi dari doger, ketuk tilu, dombret dan lain-lain. Di Karawang dan Subang muncul Bajidoran dalam sajian kesenian ini terdapat beberapa perubahan yang cukup signifikan dalam cara penyajian, struktur pertunjukan, maupun waditra. Bajidoran lahir dari adanya pelarangan pemerintah terhadap aksi-aksi pertunjukan doger/ronggeng yang seakan tiada jarak antara doger/ronggeng dengan penggemarnya, serta perilaku lain seperti adanya pemabukan, perjudian, dan prostitusi terselubung. Maksud baik pemerintah untuk melahir disikapi masyarakat dengan melahirkan seni bajidoran yang menempatkan pesinden/ronggeng di panggung sementara para jago/jawara menari di area depan panggung sehingga nyaris tidak kontak fisik yang signivikan. Kontak fisik terjadi ketika bajidor memberikan uang dengan cara salam tempel. Hal ini menunjukkan ada kemajuan pemahaman masyarakat budayanya yang semakin menjunjung tinggi etika.

    Pada masa orde baru, kesadaran masyarakat akan hiburan meningkat pada kesadaran akan seni untuk kebutuhan industri. Maka pada tahun 1978 muncul jaipongan karya seniman Bandung Gugum Gumbira. Tarian ini dalam waktu yang relatif singkat dikenal dan digemari masyarakat kelas bawah hingga kelas atas. Dunia pertunjukan di Jawa Barat saat itu dikuasai oleh Jaipongan. Jaipongan memberi pengaruh terhadap kesenian-kesenian yang hampir punah. Ketika kekayaan bentuk-bentuk kesenian di Jawa Barat ini mengadopsi gaya musik jaipongan maka kesenian itu laku dan bisa hidup.

    Lahirnya jaipongan mengispirasi para seniman akademisi untuk mengangkat kembali kesenian doger yang tidak pernah terdengar lagi gaungnya. Diawali dengan pencarian nara sumber terutama pelaku dan saksi hidup, maka dimulailah revitalisasi doger dilakukan. Proses revitalisasi terhadap seni doger yang dilakukan para akademisi seni yaitu oleh beberapa doses Akademi Seni Tari Bandung, di antaranya Iyus Rusliana, Mas Nanu Munajat, serta Dindin Rasidin. Kepedulian terhadap kesenian ini untuk di angkat menjadi objek pengkajian dan garapan muncul setelah lahirnya Jaipongan yang tahun 1980-an mulai populer. Inspirasi Jaipongan yang dilahirkan berdasarkan pada pengkemasan seni pertunjukan rakyat di Priangan yang dilakukan oleh Gugum Gumbira. Keberhasilan mewujudkan tarian tersebut, menumbuhkan inspirasi dari para seniman akademis ini untuk memunculkan seni doger yang sudah lama tenggelam namanya. Konsep revitalisasi untuk melestarikan kesenian yang hampir punah memang sangat sulit sekali. Apalagi sumber yang ditemukan adalah hanya berupa sumber lisan. Namun demikian masih sangat beruntung walaupun keseniannya sudah lama tidak pernah ditampilkan. Benda-benda atau instrumennya masih ada dan pemainnya masih ada walau sudah sangat tua bahkandoger yang masih hidup serta ada beberapa saksi hidup atau saksi sejarah di luar pelaku.

    Rekonstruksi dilakukan dengan metode wawancara dan mimesis dari gerak yang diberikan oleh ronggeng serta meniru tabuhan-tabuhan musik yang digunakan untuk mengiringi tarian tersebut. Rekonstruksi melalui lisan dan praktik yang hanya mengandalkan daya ingat seseorang ini sangat sulit sekali. Namun sangat disyukuri dari upaya-upaya yang dilakukan dalam waktu yang relatif panjang sekitar dua tahun itu dapat terwujud dengan baik. Awal tahun 1997 rekonstruksi dilakukan dan karya rekonstruksi itu dapat diwujudkan dan dipublish pada tahun 1999. Tarian yang dimunculkan yaitu doger kontrak menjadi sesuatu yang beda di tengah maraknya Jaipongan saat itu.

    Rekonstruksi gerak dan musik merupakan pekerjaan yang sangat menyita waktu. Namun atas kepiawaian tim tersebut akhirnya tarian dapat direkonstruksi dan sekaligus direkomposisi dengan cara di kemas agar lebih menarik. Secara cukup detail tim ini dapat menggali gerakan doger yang sangat khas dengan gaya kaleran-nya. Gaya kaleran ini dari gerak dan musiknya pun memiliki keunikan. Yang tak kalah uniknya juga masalah musik sangat berbeda dengan kesenian rakyat lainnya. Adanya gemyungatau terbang besar, terompet, dan lain-lain. Demikian halnya dengan penggarapan rupanya yaitu rias dan busana. Busana yang sangat khas dulu dari doger adalah menggunakan kain yang didesain seperti rok, kemungkinan besar ini mengadopsi dari gaun para noni Belanda yang sangat cantik dengan gaunnya yang berbentuk bulat. Sementara tubuh bagian atas memakai pakaian saperti tangtop atau di Jawa Barat lebih dikenal dengan kutang nini . Demikian halnya dengan riasnya, diberi rias cantik. Juga penggunaan kaos kaki serta kaca mata hitam. Keduanya juga meniru dari segala sesuatu yang dipergunakan oleh orang asing. Ini menjadi sangat menarik sehingga menjadi suatu keunikan tersendiri.

    Gerak-gerak yang diungkapkan oleh ronggeng sangat sederhana, seperti mincid, godeg, gerak pinggul, capangan, kedet, dan galeong. Para lelaki mengungkapkan gerak dengan sangat atraktif yaitu menunjukkan gerak-gerak penca yang lincah dan gagah. Ajang ini merupakan tempat pamer kemampuan dalam bidang ibing penca. Pada masa ini terkadang terjadi perkelahian antar pamogoran karena memperebutkan ronggeng. Biasanya pamogoran meminta lagu kepada ronggeng kemudian ia menari sesuka hati. Walaupun menarinya improvisasi akan tetapi gerak-gerak ciri khas tari Rakyat selalu muncul. Misalnya gerak mincid, gerak besot, ewag, nangkis, dan lain-lain.

    Ketika sebuah bentuk kesenian hiburan berubah fungsi menjadi seni pertunjukan tertu saja terdapat perubahan bentuk. Hal ini terkait juga dengan ciri-ciri dari pertunjukan. Di antaranya adalah terdapat jarak antara penonton dan pemain artinya tidak ada interaksi langsung secara fisik karena penonton hanya dapat menikmati sajian yang disuguhkan itu. Sajian telah memiliki pola tertentu karena telah melalui proses persiapan yang matang. Sangat berbeda dengan seni hiburan. Durasi waktu juga ditentukan tidak semaunya tidak sepanjang malam sesukanya seperti dalam seni hiburan. Dalam tari yang berfungsi hiburan itu semuanya sudah terkonsep, tertata dengan baik, seperti koreografi, iringan musik, kostum maupun riasnya.
    Demikian hanya dengan gerak yang diungkapkan, gerakan bisa sangat berbeda baik dalam kualitas gerakan maupun kualitas iringan. Untuk itu konsep yang digunakan dalam merekonstruksi dengan memberi inovasi maka penggarap menggunakan konsep seni wisata, yaitu singkat, padat, menarik, dan memiliki nilai jual.Maka berdasarkan konsep tersebur tarian doger yang kemudian disebut doger kontrak dapat menjadi aset seni pertunjukan di Jawa Barat.

    PENUTUP

    Revitalisasi tari doger yang kemudian menjadi doger kontrak, tidak lepas dari unsur-unsur inovasi, karena bila hanya mengandalkan revitalisasi kemungkinan besar tarian ini tidak akan laku di jual, padahal zaman sudah berubah. Kebutuhan hiburan yang efektif dan efisien tetapi dapat memuaskan. Karena para penikmat hanya memiliki waktu sejenak untuk melepaskan kepenatan sehari-hari. Dalam merevitalisasi dan kemudian menginovasi, tentu saja kepentingan dunia industri pun perlu menjadi pertimbangan. Selain itu, inovasi yang dilakukan untuk membentuk kemasan seni tidak lepas dari selera massa. Kebutuhan ekonomi semakin meningkat, kebutuhan sni juga semakin meningkat. Oleh sebab itu diperlukan hiburan-hiburan ringan tapi menarik untuk dinikmati.Doger kontrak sebagai salah satu bentuk seni pertunjukan yang menarik perlu dihargai sebagai sebuah hasil rekonstruksi dan inovasi yang berhasil, sehingga warisan budaya tak benda kita yang pernah hidup pada masa kolonial sisa-sisanya masih dapat dinikmati oleh generasi muda.

    [1]Aki Salam merupakan salah seorang pelaku/pengibing Ketuk Tilu yang kini masih aktif menari di Kebun Binatang Bandung sejak tahun 1973. Ia pria kelahiran Madura yang sudah lama menetap di bandung hingga jatuh cinta pada kesenian Sunda terutama Pencak Silat dan Ketuk Tilu. Kini ia telah berusia 93 tahun, namun masih tampak segar dan kekar apalagi ketika menari.



    DAFTAR PUSTAKA

    Ardjo, Irawati Durban. 2007. Tari Sunda Tahun 1880-1990: Melacak Jejak Tb. Oemay Martakusuma dan Rd, Tjetje Somantri. Bandung: Pusbitari Press.

    Caturwati, Endang. 2006. Perempuan Ronggeng, di Tatar Sunda Telaah Sejarah Budaya. Bandung: LBPS.

    Herdiani, Een. 2012. Ronggeng, Ketuk Tilu, dan Jaipongan. Sudi Kasus Kesenian Rakyat di Priangan (Abad ke-19 sampai Awal Abad ke-21)

    Heriawati, Yanti, 2004. Doger dan Ronggeng: Dua Wajah Tari Perempuan di Jawa Barat, Tesis. Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

    Lubis, Nina Herlina. 1998. Kehidupan kaum Menak Priangan 1800-1942. Bandung: Pusat Informasi Kebudayaan Sunda.

    Sedyawati, Edi. 2006. Budaya Indonesia, Kajian hh, Kajian Arkeologi, Seni dan Sejarah.

    Soedarsono, R.M., 1999. Seni Pertunjukan Indonesia dan Pariwisata. Bandung: MSPI

    Suharto, Ben. 1979-1980. Tayub: Pengamatan dari Segi Tari Pergaulan serta Kaitannya dengan Unsur Upacara Kesuburan. Laporan penelitian, Yogyakarta: Proyek Pengembangan Institut Kesenian Indonesia, Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

    Sumardjo Yakob. 2001. Seni Pertunjukan Indonesia . Bandung: STSI Pres.


    IDENTITAS PENULIS

    Nama : Dr. Hj. Een Herdiani, S.Sen., M.Hum
    NIP : 196707061993022001
    Iempat Tgl lahir : Ciamis, 06 Juli 1967
    Alamat rumah : Jl. Marga Asri No. 15 Bandung.
    Asal Instansi : Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung
    Alamat kantor : Jl. Buah Batu No. 212 Bandung 4028

    Agenda

    Kabar

    Kontak Kami