Dr. Hj. Een Herdiani S.Sen, M.Hum., dilahirkan di kota kecil Ciamis, sebelah tenggara Jawa Barat. Mengecap pendidikan dasar dan menengah di kota asalnya, ia lalu melanjutkan pendidikan hingga lulus dari SMKI Bandung. Selepas menyelesaikan D3 di ASTI Bandung, ia mendapatkan gelar sarjana (S1) seni dari STSI Surakarta. Perempuan yang kini menjabat Ketua STSI Bandung tersebut, memperoleh gelar S2 di Universitas Gadjah Mada, dan meraih gelar Doktor (S3) dalam bidang sejarah seni dari Universitas Padjadjaran Bandung. Kini ia terus mencurahkan totalitas hidupnya untuk pendidikan dan pelestarian seni tari, serta aktif berkecimpung dalam dunia akademisi.

18 June 2013

Membawa Topeng Klana Berkelana di Eropa

Sudah pernah mendengar "Tari Topeng Klana"? Saya tidak pernah membayangkan pada suatu hari dapat menyajikan tari tradisi ini di tempat yang sedemikian jauhnya, tapi nyatanya kesempatan langka itu datang juga. Saya bergabung dengan Professor Clarta Brakkel dari Universitas Leiden, Belanda, dalam sebuah workshop yang istimewa.

Saya mengenalkan keragaman tarian Indonesia, khususnya tari Sunda, kepada para mahasiswa yang tergabung dalam kelompok tari yang dipimpin oleh Professor Clarta Brakkel tersebut. Mereka mendengarkan paparan tentang tari topeng, fungsi dan macamnya, dan bahkan juga mendapat sekilas pengenalan gerakan-gerakan pada tari tersebut.

Penasaran dengan Tari Topeng Klana? Silakan Anda dapat menyaksikannya dalam video yang diunggah pada laman Youtube ini:


Deskripsi singkat mengenai Tari Topeng Klana, dikutip dari laman Disbudpar Jabar adalah sebagai berikut:

Tari topeng Klana adalah gambaran seseorang yang bertabiat buruk, serakah, penuh amarah dan tidak bisa mengendalikan hawa nafsu, namun tarinya justru paling banyak disenangi oleh penonton. Sebagian dari gerak tarinya menggambarkan seseorang yang tengah marah, mabuk, gandrung, tertawa terbahak-bahak, dan sebagainya. Lagu pengiringnya adalah Gonjing yang dilanjutkan dengan Sarung Ilang. Struktur tarinya seperti halnya topeng lainnya, terdiri atas bagian baksarai (tari yang belum memakai kedok) dan bagian ngedok (tari yang memakai kedok).

Beberapa dalang topeng, misalnya Rasinah dan Menor (Carni), membagi tarian ini menjadi dua bagian. Bagian pertama, adalah tari topeng Klana yang diiringi dengan lagu Gonjing dan sarung Ilang. Bagian kedua, adalah Klana Udeng yang diiringi lagu Dermayonan.

Tari topeng Klana sering pula disebut topeng Rowana. Sebutan itu mengacu pada salah satu tokoh yang ada dalam cerita Ramayana, yakni tokoh Rahwana. Secara kebetulan, karakternya sama persis dengan tokoh Klana dalam cerita Panji. Di Cirebon, topeng Klana dan Rowana kadang-kadang diartikan sebagai tarian yang sama, namun bagi beberapa dalang topeng, misalnya Sujana dan Keni dari Slangit; Sutini dari Kalianyar dan Tumus dari Kreo; membedakan kedua tarian tersebut, hanya kedoknya saja yang sama. Jika kedok Klana yang ditarikan itu memakai kostum irah-irahan atau makuta Rahwana di bagian kepalanya dan di bagian punggungnya memakai badong atau praba, maka itulah yang disebut topeng Rowana. Kostumnya jauh berbeda dengan topeng Klana dan kelihatan sangat mirip dengan kostum tokoh Rahwana dalam wayang wong.

Dalam pertunjukan topeng hajatan, yakni setelah tari topeng tersebut selesai, penari biasanya melakukan nyarayuda atau ngarayuda, yakni meminta uang kepada para penonton, tamu undangan, pemangku dan panitia hajat, para pedagang, dan lain-lain. Ia berkeliling seraya mengasong-asongkan kedok yang dipegang terbalik (bagian dalamnya terbuka dan bagian wajahnya menghadap ke bawah) dan kedok berubah fungsi menjadi wadah uang. Mereka memberikan uang seikhlasnya tanpa merasa ada suatu paksaan. Setelah merasa cukup, penari kembali ke panggung dan sebagai rasa terima kasih, ia kembali mempersembahkan beberapa gerakan tari topeng Klana, sebagai tarian ekstra.

Nyarayuda atau ngarayuda adalah sebuah pesan moral atau simbol yang mengingatkan kita tentang bagaimana sebaiknya berkehidupan di masyarakat. Klana adalah seorang raja yang kaya raya, yang tak kurang suatu apapun, namun ia masih merasa kekurangan, merasa segalanya belum cukup, sehingga ia tetap berusaha untuk mengambil sebanyak-banyaknya harta tanpa memperdulikan apakah itu hak atau batil. Itulah sebenarnya pesan yang ingin disampaikan nyarayuda, yang artinya bukan semata-mata mengemis. Hidup, sebaiknya lebih banyak memberi daripada lebih banyak meminta. Itulah pesan yang ingin disampaikan.


1 comment:

Reviandi Reza said...

Tari topeng ini memang sangat beragam adanya. sebuah kebudayaan unik sangat berharga dan patut kita lestarikan.
Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis yang bisa anda kunjungi di
Informasi Seputar Indonesia

 
© 2013 EenHerdiani.net | v580 | about us | disclaimer | contact us