Gatotkaca Dance

Gatotkaca Dance atau Tari Gatotkaca adalah salah satu penampilan yang dibawakan oleh Een Herdiani, pada saat peringatan 80 tahun Enoch Atmadibrata. Kegiatan tersebut berlangsung pada tanggal 28 Desember 2007 di Gedung Sunan Ambu STSI Bandung. Demikian yang dapat disaksikan pada video di bawah ini.


Terima kasih atas dokumentasi dan unggahan Yoki Purwadi untuk pementasan tersebut.
selengkapnya...

Pesantren Seni: Revolusi Mental Melalui Seni Religi?


KAGAMA, bekerjasama dengan ISBI Bandung dan Direktorat Pembinaan Kesenian dan Perfilman Kemdikbud!! emdikbud, menyelenggarakan kegiatan Pesantren Seni di Kampung Ramadhan. Kegiatan yang sangat positif ini berupa pelatihan 80 orang anak dari Panti Yatim dan Dhuafa Al-Fitroh Banjaran dan diselenggarakan selama 4 hari.

Para peserta diberi wawasan dan pelatihan seni, di antaranya berupa seni musik/lagu-lagu Sunda yang isinya sarat dengan pendidikan karakter. Syair-lagu karya Dian Hendayana yang diaransemen oleh Yus Wiraz sangat cocok untuk anak-anak tersebut. Lagu-lagu baru yang dibawakan adalah mengenai nilai-nilai budaya lokal yaitu "CAGEUR, BAGEUR, BENER, PINTER, SINGER jeung WANTER" dan lagu-lagu tersebut menlukiskan dengan sangat rinci bagaimana nilai budaya harus dibangun dan dimiliki oleh setiap manusia.

Sajian lagu-lagu tersebut diiringi tarian. Luar biasa..., angkat jempol untuk KAGAMA Jabar! Sayangnya, pada kegiatan yang merupakan program perdana ini, jumlah penonton belum banyak dan terasa kurang 'rempeg'.

Kegiatan seperti ini merupakan salah satu strategi dalam program revolusi mental bagi anak-anak bangsa yang sekarang sudah cenderung meninggalkan nilai-nilai budaya lokal yang adiluhung. Semoga ini akan menjadi program pemerintah khususnya di Jawa Barat untuk direalisasikan di sekolah-sekolah.

Rencana Direktur Kesenian Direktorat Pembinaan Kesenian dan Perfilman Kemdikbud untuk membawa sajian tadi malam dan ditampilkan di hadapan Mendikbud merupakan pemikiran yang harus didukung oleh kita semua. Revolusi mental dapat digerakkan melalui seni budaya dan ISBI siap bergerak untuk ikut berperan mewujudkannya. Besar harapan kita, ada keberpihakan dan dukungan penuh pemerintah sebagai pemangku kebijakan.
selengkapnya...

ISBI Khawatirkan Hilangnya Budaya Lokal

RMOLJabar. Senin (1/6) merupakan hari anak sedunia. Arus informasi yang mengalir secara deras melalui dunia gadget membuat sejumlah keluarga lupa memberikan pendidikan berbudaya lokal.

Menurut Rektor Insitut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung DR. HJ. Een Herdiani, S.SEN., M. HUM merupakan kerja berat baginya untuk mengembangkan dan menularkan hasil-hasil penelitian untuk dapat dikembangkan dan kembali kepada budaya lokal.

"Pemerintah melalui Dinas Pendidikan, unsur Perguruan Tinggi, masyarakat sampai pada keluarga memiliki tanggung jawab untuk pengembangan budaya tersebut," tandas Een.

Een mengakui banyaknya kelemahan, karena selama ini dari hasil penelitian, seminar dan yang lainnya terkadang hanya disimpan di rak lemari dan tidak di publish ke masyarakat luas.

Dicontohkan Een banyak nilai-nilai pendidikan di dalam gamelan, tari dan yang lainnya. Een menjelaskan dirinya kerapkali berdiskusi dengan rekan-rekannya di jurusan animasi agar dapat membuat film-film pendek berdurasi 1 jam untuk dapat ditonton anak-anak, sehingga nilai-nilai budaya lokal tidak dilupakan."Animasi itu bisa ditonton para pengunjung cafe dengan berisi budaya lokal," imbuhnya.

Menurut Een pihaknya juga menerapkan kewajiban bagi prodi televisi dan film, ujiannya membuat film dokumenter seni budaya. Hal ini menjadi salahsatu upaya untuk meminimalisir perkembangan teknologi yang begitu canggih saat ini."Saya ingin agar anak-anak kita kembali mencintai nilai-nilai budaya," tegasnya.

Seorang keluarga dapat membawa anak berapresiasi, dibawakan cerita yang bernilai budaya lokal, pantun, wayang dsb yang menarik bagi anak-anak."Seperti yang dikembangkan wayang Tafif, wayang ajen sehingga membuat ketertarikan dimata anak-anak," ucapnya.

"Sudah tidak ada lagi dogeng pengantar tidur, tidak lagi menggunakan bahasa turunan, seharusnya orangtua lebih mengenalkan pendidikan lokal daerahnya kepada anak-anak mereka dari pada anak dibiarkan melihat dunia maya," jelasnya.

Een juga menyayangkan masih minimnya pelajaran seni dan budaya di sekolah termasuk para pengajarnya yang tidak sedikit bukan dari latar belakang seni, namun hanya sebatas hoby.[gun]

sumber: rmoljabar.com
selengkapnya...